Langsung ke konten utama

Postingan

Marketing 6.0

Ada hal menarik ketika kita membicarakan perkembangan marketing. Semakin maju teknologi yang kita gunakan, semakin besar pula tantangan bagi sebuah bisnis untuk tetap memahami manusia. Kita bisa menjangkau ribuan orang melalui media sosial, menggunakan artificial intelligence (AI) untuk membaca perilaku konsumen, hingga menciptakan pengalaman digital yang semakin realistis. Namun, pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah semua itu benar-benar membuat kita lebih dekat dengan pelanggan? Pertanyaan seperti inilah yang membuat saya tertarik mempelajari Marketing 6.0 karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Buku ini melanjutkan pembahasan tentang transformasi pemasaran di era teknologi, khususnya bagaimana bisnis dapat memanfaatkan perkembangan dunia digital untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif bagi konsumen. Dari Marketing 1.0 hingga Marketing 6.0 Kalau kita melihat perjalanan marketing, setiap era memiliki tantangannya sendiri. Marketing 1.0 ...
Postingan terbaru

Intentional Living

Ada beberapa buku yang selesai dibaca, lalu disimpan di rak. Ada juga buku yang terus kita buka kembali, bahkan setelah bertahun-tahun. Bagi saya, Intentional Living: Choosing a Life That Matters karya John C. Maxwell adalah salah satunya. Buku ini sudah saya baca berulang kali sampai kondisinya usang. Bukan karena saya tidak memiliki buku lain untuk dibaca, tetapi karena ada pesan-pesan di dalamnya yang terus relevan dengan perjalanan hidup saya. Saya membaca versi asli bahasa Inggrisnya. Saya ingin menangkap langsung pilihan kata dan cara John C. Maxwell menyampaikan pemikirannya, tanpa perantara terjemahan. Ada pengalaman tersendiri ketika membaca sebuah buku dalam bahasa asli penulisnya, terutama ketika kita ingin memahami bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana gagasan itu dibangun. Buku ini memiliki subjudul Choosing a Life That Matters . Bagi saya, subjudul tersebut sudah mewakili inti pemikirannya: memilih untuk menjalani kehidupan yang berarti. Bukan sekadar m...

Teknologi untuk Kemanusiaan

 Belakangan ini, saya sedang mencoba membaca kembali dan memahami bagaimana perkembangan pemasaran dari masa ke masa. Salah satu buku yang menarik perhatian saya adalah Marketing 5.0: Technology for Humanity karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Ada satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini, yaitu bagaimana teknologi seharusnya digunakan untuk membantu manusia, bukan sekadar membuat bisnis menjadi lebih canggih. Sebagai seseorang yang pernah bekerja di industri perbankan, kemudian memilih jalan menjadi entrepreneur, dan saat ini juga mengajar di perguruan tinggi, saya melihat sendiri bagaimana teknologi mengubah cara kita bekerja, berbisnis, dan berinteraksi dengan konsumen. Perubahannya sangat cepat. Sesuatu yang beberapa tahun lalu terasa sulit dilakukan, sekarang bisa dikerjakan hanya dengan bantuan ponsel dan koneksi internet. Apalagi sejak kehadiran AI. Banyak hal yang dahulu membutuhkan waktu lama kini bisa dilakukan dengan jauh lebih cepat. M...

Diplomat Success Challenge

Ada masa ketika saya berpikir bahwa karier yang baik adalah tentang bekerja di perusahaan besar, memiliki penghasilan tetap, dan membangun masa depan secara bertahap. Pemikiran itu tidak salah. Namun, perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa terkadang kita perlu berani keluar dari zona nyaman untuk menemukan potensi diri yang sebenarnya. Saya memulai perjalanan profesional sebagai karyawan Bank Mandiri. Selama kurang lebih lima tahun, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga, mulai dari memahami dunia perbankan, melayani nasabah, mengenal pengelolaan keuangan, hingga belajar tentang kedisiplinan dan profesionalisme. Bekerja di salah satu bank terbesar di Indonesia memberi saya fondasi yang kuat untuk memahami bagaimana sebuah bisnis dan organisasi berjalan. Namun, di balik rutinitas pekerjaan, ada keinginan yang terus tumbuh dalam diri saya: membangun bisnis sendiri, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan sesuatu yang bisa memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Akhirnya...

The Let Them Theory

Buku yang sedang saya baca saat ini adalah The Let Them Theory karya Mel Robbins. Saya cukup sering membaca buku tentang pengembangan diri, bisnis, leadership, maupun entrepreneurship. Tetapi ada beberapa buku yang tidak berhenti ketika halaman terakhir selesai dibaca. Ada gagasan tertentu yang justru membuat kita berhenti sejenak dan melihat kembali kehidupan kita sendiri. Buat saya, The Let Them Theory adalah salah satunya. Konsep utama buku ini sebenarnya sangat sederhana: “Let them.” Biarkan mereka. Sederhana sekali, tetapi semakin saya baca, semakin saya merasa bahwa justru hal sederhana seperti ini yang sering sulit kita praktikkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghabiskan banyak energi untuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kenapa seseorang tidak membalas pesan, kenapa ada orang yang tidak mendukung keputusan kita, kenapa seseorang berubah, atau kenapa orang lain tidak memahami apa yang sedang kita kerjakan. Kita bahkan terkadang terlalu sibu...

Professional Marketing vs Entrepreneurial Marketing

 Selama ini kita mengenal marketing sebagai sebuah disiplin yang sangat terstruktur. Ada market research, segmentation, targeting, positioning, marketing mix, consumer behavior, marketing strategy , hingga berbagai indikator untuk mengukur keberhasilan sebuah aktivitas pemasaran. Semua dilakukan dengan data. Semua direncanakan. Semua diukur. Pendekatan inilah yang kemudian dapat kita pahami sebagai professional marketing . Namun, dunia bisnis berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Teknologi berkembang, perilaku konsumen berubah, batas antarindustri semakin kabur, dan berbagai peluang baru muncul bahkan sebelum konsumen sendiri menyadari bahwa mereka membutuhkannya. Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan menarik: Apakah marketing cukup hanya menjadi semakin profesional? Philip Kotler bersama Hermawan Kartajaya, Hooi Den Huan, dan Jacky Mussry melalui buku Entrepreneurial Marketing menawarkan perspektif yang menarik: marketing perlu bergerak beyond professionalis...

Lelaki yang Jarang Disebut, tetapi Membuat Tempe Layak Dibanggakan

Kisah seorang anak Brebes yang gagal menjadi ABRI, merantau ke Bogor, menjadi pengurus koperasi di usia 19 tahun, hingga mendirikan Rumah Tempe Indonesia Ada banyak nama yang muncul ketika kita berbicara tentang tempe Indonesia. Ada nama-nama ilmuwan, akademisi, profesor, peneliti, pengusaha, hingga generasi baru entrepreneur yang berhasil membawa tempe ke berbagai penjuru dunia. Ada yang dikenal sebagai tokoh teknologi pangan. Ada yang dikenal sebagai profesor tempe. Ada pula startup tempe dari luar negeri yang membuat dunia mulai mengenal tempe sebagai makanan fermentasi yang sehat, bernilai ekonomi, dan memiliki potensi global. Nama-nama itu tentu memiliki kontribusinya masing-masing. Tetapi di antara banyak nama tersebut, ada satu nama yang mungkin tidak terlalu sering disebut. Namanya Sukhaeri . Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Heri . Ia bukan profesor. Bukan pula seorang tokoh yang sejak muda bercita-cita menjadi “orang tempe”. Bahkan, kalau boleh jujur, tempe mungkin bu...