Langsung ke konten utama

Postingan

Lelaki yang Jarang Disebut, tetapi Membuat Tempe Layak Dibanggakan

Kisah seorang anak Brebes yang gagal menjadi ABRI, merantau ke Bogor, menjadi pengurus koperasi di usia 19 tahun, hingga mendirikan Rumah Tempe Indonesia Ada banyak nama yang muncul ketika kita berbicara tentang tempe Indonesia. Ada nama-nama ilmuwan, akademisi, profesor, peneliti, pengusaha, hingga generasi baru entrepreneur yang berhasil membawa tempe ke berbagai penjuru dunia. Ada yang dikenal sebagai tokoh teknologi pangan. Ada yang dikenal sebagai profesor tempe. Ada pula startup tempe dari luar negeri yang membuat dunia mulai mengenal tempe sebagai makanan fermentasi yang sehat, bernilai ekonomi, dan memiliki potensi global. Nama-nama itu tentu memiliki kontribusinya masing-masing. Tetapi di antara banyak nama tersebut, ada satu nama yang mungkin tidak terlalu sering disebut. Namanya Sukhaeri . Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Heri . Ia bukan profesor. Bukan pula seorang tokoh yang sejak muda bercita-cita menjadi “orang tempe”. Bahkan, kalau boleh jujur, tempe mungkin bu...
Postingan terbaru

Marketing 1.0 sampai 6.0 Evolusi Pemikiran Philip Kotler tentang Pemasaran

Pengalaman saya menjadi pembicara di marketing festival di pekan baru dan Jogja. Ketika berbicara tentang pemasaran, nama Philip Kotler hampir selalu menjadi salah satu rujukan utama. Selama beberapa dekade, Kotler bersama Hermawan Kartajaya mengembangkan pemikiran mengenai bagaimana pemasaran terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat, teknologi, dan perilaku konsumen. Perubahan tersebut kemudian sering dijelaskan melalui konsep Marketing 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, hingga 6.0 . Menariknya, perubahan ini bukan berarti konsep sebelumnya menjadi tidak relevan. Justru, setiap tahap merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Produk tetap penting, konsumen tetap penting, nilai kemanusiaan tetap penting, dan teknologi semakin menjadi bagian yang menghubungkan semuanya. Lalu, bagaimana evolusi tersebut? Marketing 1.0: Product-Centric Marketing 1.0 merupakan fase ketika pemasaran sangat berorientasi pada produk . Pada era ini, perusahaan berfokus pada bagaimana menghasilkan produk secar...

Tempe, Ketahanan Pangan, dan Masa Depan Kedelai Indonesia

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tempe mungkin terlihat sederhana. Ia hadir di meja makan sehari-hari, dijual di pasar tradisional, warung kecil, hingga restoran modern. Namun di balik kesederhanaannya, tempe menyimpan cerita besar tentang pangan, ekonomi rakyat, dan masa depan Indonesia. Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, hingga ketergantungan impor bahan pangan, tempe justru menjadi salah satu simbol ketahanan pangan lokal yang paling nyata. Tempe bukan hanya makanan murah dan bergizi, tetapi juga sumber penghidupan jutaan masyarakat Indonesia. Pertanyaannya: apakah kita sudah melihat tempe sebagai bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional? Krisis Pangan dan Ketergantungan Impor Hari ini dunia sedang menghadapi tantangan pangan yang semakin kompleks. Pandemi COVID-19, konflik geopolitik, kenaikan harga pangan dunia, dan perubahan iklim membuat banyak negara mulai khawatir terhadap keamanan pangannya sendiri. Indonesia pun menghadapi tantangan...

Strategi Agriyaponik untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, dan meningkatnya kebutuhan pangan global, sektor pertanian dituntut untuk terus berinovasi. Sistem pertanian konvensional yang bergantung pada penggunaan air besar, pupuk kimia, dan lahan luas mulai menghadapi berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pertanian yang lebih efisien, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu konsep yang mulai berkembang dalam dunia agribisnis modern adalah agriyaponik . Sistem ini hadir sebagai solusi pertanian terintegrasi yang mengombinasikan budidaya tanaman, perikanan, pengelolaan nutrisi organik, serta pendekatan kewirausahaan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Apa Itu Agriyaponik? Agriyaponik merupakan pengembangan dari sistem akuaponik yang tidak hanya berfokus pada integrasi ikan dan tanaman, tetapi juga memasukkan aspek agribisnis, inovasi, sustainability, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam sistem ini, limbah dari budidaya ...

Village-Based Entrepreneurial Agribusiness Institution Model untuk Masa Depan Pertanian Desa Indonesia

Di tengah tantangan perubahan iklim, urbanisasi, krisis pangan, dan menurunnya minat generasi muda terhadap pertanian, desa tidak bisa lagi hanya diposisikan sebagai “tempat produksi pangan”. Desa harus berubah menjadi pusat inovasi, kewirausahaan, dan pembangunan ekonomi berbasis agribisnis. Inilah mengapa konsep Village-Based Entrepreneurial Agribusiness Institution Model menjadi semakin relevan. Model ini menawarkan pendekatan baru dalam pembangunan pertanian desa: bukan sekadar meningkatkan hasil panen, tetapi membangun institusi agribisnis desa yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan. Apa Itu Village-Based Entrepreneurial Agribusiness Institution? Secara sederhana, konsep ini adalah: institusi agribisnis berbasis desa yang mengintegrasikan kewirausahaan, inovasi, teknologi, edukasi, dan ketahanan pangan dalam satu ekosistem pembangunan desa. Dalam model ini, pertanian tidak hanya dilihat sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai: pusat ekonomi desa, pusat pembelaj...