Pengalaman saya menjadi pembicara di marketing festival di pekan baru dan Jogja. Ketika berbicara tentang pemasaran, nama Philip Kotler hampir selalu menjadi salah satu rujukan utama. Selama beberapa dekade, Kotler bersama Hermawan Kartajaya mengembangkan pemikiran mengenai bagaimana pemasaran terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat, teknologi, dan perilaku konsumen. Perubahan tersebut kemudian sering dijelaskan melalui konsep Marketing 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, hingga 6.0 . Menariknya, perubahan ini bukan berarti konsep sebelumnya menjadi tidak relevan. Justru, setiap tahap merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Produk tetap penting, konsumen tetap penting, nilai kemanusiaan tetap penting, dan teknologi semakin menjadi bagian yang menghubungkan semuanya. Lalu, bagaimana evolusi tersebut? Marketing 1.0: Product-Centric Marketing 1.0 merupakan fase ketika pemasaran sangat berorientasi pada produk . Pada era ini, perusahaan berfokus pada bagaimana menghasilkan produk secar...
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tempe mungkin terlihat sederhana. Ia hadir di meja makan sehari-hari, dijual di pasar tradisional, warung kecil, hingga restoran modern. Namun di balik kesederhanaannya, tempe menyimpan cerita besar tentang pangan, ekonomi rakyat, dan masa depan Indonesia. Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, hingga ketergantungan impor bahan pangan, tempe justru menjadi salah satu simbol ketahanan pangan lokal yang paling nyata. Tempe bukan hanya makanan murah dan bergizi, tetapi juga sumber penghidupan jutaan masyarakat Indonesia. Pertanyaannya: apakah kita sudah melihat tempe sebagai bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional? Krisis Pangan dan Ketergantungan Impor Hari ini dunia sedang menghadapi tantangan pangan yang semakin kompleks. Pandemi COVID-19, konflik geopolitik, kenaikan harga pangan dunia, dan perubahan iklim membuat banyak negara mulai khawatir terhadap keamanan pangannya sendiri. Indonesia pun menghadapi tantangan...