Langsung ke konten utama

Akan menginjak usia 24? Hentikan kebiasaan ini segera !

Hallo Bels


Usia 24 adalah salah satu usia yang menurut kebanyakan orang cukup sulit untuk dilewati. Terutama karena usia ini adalah usia peralihan dari masa ABG yang labil, beralih pada masa dewasa yang sudah mulai dituntut tanggung jawab. Pada masa kalian yang berada diusia ini mayoritas baru lulus kuliah atau mungkin sudah  meniti karir lantas ingin beralih kepekerjaan yang lain. Diusia ini juga adalah saat-saat teman kalian yang satu angkatan sudah mulai berlomba-lomba mengirim kartu undangan pernikahan, sedangkan kalian masih dibingungkan memilih prioritas pilihan antara lanjut sekolah lagi, mengumpulkan uang untuk nikah, atau pilih jalan-jalan saja mencari pengalaman diluar.

Agar kamu yang akan menginjak usia 24 dapat antisipasi, ataupun kamu yang sudah lewat masa itu namun masih bertanya-tanya kenapa hati kok masih resah. Mungkin ada hal-hal yang belum tegas kamu tinggalkan pada saat kamu menginjak usia 24. Berikut adalah tips agar tidak galau saat menginjak maupun setelah usia 24.

Berhenti mengabaikan kesehatan 

Rasanya klise, namun hal ini sangat penting  untuk dipraktekkan. Apabila kamu pernah menanyakan kepada senior ataupun rekan kerja yang saat ini kurang beruntung karena sedang berkutat dalam satu penyakit, keterangan yang mereka berikan hampir sama yaitu penyakit ini adalah tabungan kebiasaan buruk dia saat muda. Kok tabungan? Iya tabungan penyakit karena jarang olah raga, karena sering makan gorengan, karena sering makan junkfood, karena sering begadang, karena sering mengendarai motor diwaktu malam tanpa pakai mantel dll. Setiap penyakit punya sebabnya masing-masing, tidak mau kan diusia lanjut yang seharusnya kamu nikmati bersama anak dan cucu jadi harus kamu habiskan dengan penyakit? Jadi, kalau kamu masih punya kesempatan untuk menjaga kesehatan, mari dijaga kesehatan sejak dini! Terutama diusia 24 ini adalah masa yang penting untuk merubah kebiasaan buruk menjadi baik, sebelum terlambat.


Berhenti berhubungan dengan yang tidak cocok

Nah, ini sangat cocok buat kamu yang suka tebar pesona ke sembarang orang. Kenyataannya diusia 24 ini sangat rentan untuk menjalin suatu hubungan tidak serius kepada lawan jenis. Karena diusia ini pada dasarnya sosok kamu itu sudah mulai diperhitungkan oleh orang sekitar, baik dilingkungan keluarga, teman-teman dekat, maupun masyarakat sekitar. Setiap hal yang kamu pilih sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab kamu termasuk dalam urusan jodoh. Jadi kalau tidak berniat untuk menseriusi suatu hubungan (read: hanya coba-coba) ketika usiamu menginjak usia 24, lebih baik jangan dilakukan. Bukannya dapat jodoh yang benar-benar cocok, malah bisa jadi kamu di asumsikan negatif oleh orang sekitar. Ada baiknya kamu libatkan orang sekitar terutama orang tua dalam urusan kali ini. Pertimbangan mereka mungkin sangat membantu dalam menentukan pilihan, terutama dalam urusan jodoh.


Berhenti memperhatikan pikiran orang lain

Untuk sebagian orang yang ingin berlaku ramah terhadap orang lain, memperhatikan pikiran orang adalah hal yang tidak pernah absen untuk dilakukan. Tentu saya ataupun kamu pernah dalam melakukan sesuatu lantas berfikir berlebihan tentang pendapat orang lain. Kalau kamu masih melakukan itu diusia 24, alangkah lebih baik untuk dikurangi sekarang juga. Karna pada hakikatnya tidak ada pandangan manusia manapun yang sama persis 100%. Bahkan pada satu golongan atau kelompok tertentu. Tidak mau kan isi dalam fikiranmu yang seharusnya dipakai untuk berkreatifitas, digunakan hanya untuk menghawatirkan pendapat orang lain. Selain hanya akan membuatmu resah dan takut salah, memikirkan pendapat orang lain secara berlebihan hanya akan membuat keberanianmu semakin menciut.

Berhenti menyalahkan Orang tua

Untuk kita yang masih memendam rasa marah kepada orang tua. Entah itu karna merasa tidak mendapat dukungan yang cukup dari orang tua ataupun marah karena merasa ditelantarkan maupun diperlakukan tidak adil oleh orang tua. Apabila kamu akan menginjak usia 24, maka berhentilah, sekarang. Karena diusia ini adalah masa peralihan dimana kamulah yang seharusnya mengayomi orang tua dan saudara-saudaramu. Saat ini adalah masa dimana orang tuamu menganggap kamu sudah cukup dewasa mengambil keputusan yang penting untuk kehidupanmu kedepannya. Terlepas dari sikap mereka yang tidak berkenan dihati kamu, percayalah mereka begitu yakin dan bangga atas pencapaianmu saat ini. Terlebih saat inilah waktu yang tepat bagi kamu yang sudah mantap menikah, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kamu sudah siap untuk melanjutkan kehidupanmu bersama keluarga kecil yang kamu impi-impikan. Tentu hal tersebut tidak akan terwujud apabila restu dari mereka tidak kamu dapat. Mulai sekarang berbaik hatilah kepada mereka walau memaafkan itu sulit, demi kehidupan yang lebih baik kedepannya kamu harus bisa!  

Berhenti jadi orang terlalu baik

Berlaku baik sih boleh-boleh aja, tapi terlalu baik ya jangan. Kok gitu, bukannya berbuat baik itu harus? Iya betul, yang saya maksud itu terlalu baik sampai kamu melupakan bahwa diri kamu sendiri juga perlu dibaikin. Jangan sampai kamu berbuat baik kepada orang tapi lupa bahwa diri kamu juga punya hak untuk kamu perlakukan dengan baik. Untuk kamu yang masih diasumsikan tidak memiliki pendirian, untuk kamu yang nggak enakkan sama orang lain, untuk kamu yang tidak bisa bilang tidak, untuk kamu yang selalu setuju, untuk kamu yang tidak pernah memikirkan diri sendiri karna menganggap orang lain lebih penting, atau untuk kamu yang dituduh php (pemberi harapan palsu) karena terlalu baik kepada lawan jenis akibat belum dapat membedakan kebaikan dan harapan semu. Hey stop sekarang juga! Sebelum terlambat. Terutama diusia 24, seharusnya kita sudah tahu kapan harus bilang Ya dan kapan harus bilang Tidak. Termasuk cara menyampaikannya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.


Semoga kita bisa melewati umur 24 ini dengan selamat. Bisa lulus diusia ini dengan meninggalkan hal-hal yang seharusnya ditinggalkan. Sehingga tidak menjadi PR diusia selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Tempe Indonesia: A Local Answer to Food Security Challenges in Indonesia

As the world faces growing concerns over food security, Indonesia—a country rich in agricultural resources and traditional knowledge—is seeking sustainable solutions that not only address hunger, but also support health, the economy, and the environment. One such solution lies in a humble, centuries-old food: tempeh . And at the heart of tempeh innovation is Rumah Tempe Indonesia (RTI) . A Center for Sustainable Innovation Located in Bogor, West Java, Rumah Tempe Indonesia was established in 2012 as a modern facility dedicated to producing high-quality tempeh using safe, hygienic, and sustainable practices. More than just a production center, RTI functions as a hub for research, education, and community empowerment, aiming to elevate tempeh from a traditional food to a strategic asset in achieving national food resilience. Why Tempeh? A Superfood for the People Tempeh, made from fermented soybeans, is a highly nutritious and affordable protein source. It contains all essential amin...

Aksi Kebaikan Tak Terduga

Salah seorang biksu sahabat saya, Ajahn Sumedho , pernah menceritakan kepada saya bahwa suatu pagi ketika ia melihat ke luar jendela, di jalan kota Inggris yang kelabu dan dirundung hujan rintik-rintik, Ia melihat seorang gelandangan yang duduk meringkuk di depan pintu sebuah rumah. Para gelandangan pada zaman itu biasanya menjaga kehangatan tubuh dengan menenggak minuman keras murahan, yang kadang semacam minuman oplosan bermutu sangat rendah, yang bisa membahayakan kesehatan dan membunuh mereka. Saya sangat ingat gelandangan ini sejak saya muda, dan bau mereka begitu busuk karena jarang mandi dan bau alkohol mereka begitu buruknya hingga menempel pada kita. Nah, Ajahn Sumedho melihat gelandangan ini meringkuk di depan pintu, berupaya menghindari hujan dan dingin. Kemudian dari arah lain datang seorang pria parlente Inggris, berpakaian seperti pengusaha, memakai topi, jas yang bagus dan rapih, serta memegang payung. Persis seperti stereotip pria Inggris zaman dahulu ketika hendak ...

Rumah Tempe Indonesia: A Hub of Innovation for Tempeh Production in Indonesia

Tempeh, a traditional Indonesian fermented soybean product, has gained international recognition as a highly nutritious and sustainable source of plant-based protein. As the demand for tempeh continues to grow both domestically and globally, Rumah Tempe Indonesia (RTI) has emerged as a leading center for innovation, education, and sustainable production practices in the tempeh industry. What is Rumah Tempe Indonesia? Located in Bogor, West Java, Rumah Tempe Indonesia was established in 2012 by the Indonesian cooperative tempeh and tahu. ( Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia ) in collaboration with government and academic institutions. The facility was created in response to the need for a standardized, hygienic, and environmentally friendly model for tempeh production. RTI not only functions as a production center but also as a training facility, research hub, and community empowerment program. Innovation in Production Techniques One of the primary goals of RTI is to modernize...