Langsung ke konten utama

Dear God

Why do we wake up if we are to sleep?
Why do we live if we are to die?
Why do we meet if we are to say goodbye?
Semetimes I dont get it. Most of the times I dont like it. But I know, this all teaches us something. That time doesn't rewind. And that humans will never everlastingly win. When we understand that, we then realise that nothing is more impotant than enjoying our days and make the people around us happy. So when time may no longer exist, people will remember us. And they smile when they do so. As beautiful memories

-#88 love life, Diana Rikasari-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marketing 6.0

Ada hal menarik ketika kita membicarakan perkembangan marketing. Semakin maju teknologi yang kita gunakan, semakin besar pula tantangan bagi sebuah bisnis untuk tetap memahami manusia. Kita bisa menjangkau ribuan orang melalui media sosial, menggunakan artificial intelligence (AI) untuk membaca perilaku konsumen, hingga menciptakan pengalaman digital yang semakin realistis. Namun, pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah semua itu benar-benar membuat kita lebih dekat dengan pelanggan? Pertanyaan seperti inilah yang membuat saya tertarik mempelajari Marketing 6.0 karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Buku ini melanjutkan pembahasan tentang transformasi pemasaran di era teknologi, khususnya bagaimana bisnis dapat memanfaatkan perkembangan dunia digital untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif bagi konsumen. Dari Marketing 1.0 hingga Marketing 6.0 Kalau kita melihat perjalanan marketing, setiap era memiliki tantangannya sendiri. Marketing 1.0 ...

Intentional Living

Ada beberapa buku yang selesai dibaca, lalu disimpan di rak. Ada juga buku yang terus kita buka kembali, bahkan setelah bertahun-tahun. Bagi saya, Intentional Living: Choosing a Life That Matters karya John C. Maxwell adalah salah satunya. Buku ini sudah saya baca berulang kali sampai kondisinya usang. Bukan karena saya tidak memiliki buku lain untuk dibaca, tetapi karena ada pesan-pesan di dalamnya yang terus relevan dengan perjalanan hidup saya. Saya membaca versi asli bahasa Inggrisnya. Saya ingin menangkap langsung pilihan kata dan cara John C. Maxwell menyampaikan pemikirannya, tanpa perantara terjemahan. Ada pengalaman tersendiri ketika membaca sebuah buku dalam bahasa asli penulisnya, terutama ketika kita ingin memahami bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana gagasan itu dibangun. Buku ini memiliki subjudul Choosing a Life That Matters . Bagi saya, subjudul tersebut sudah mewakili inti pemikirannya: memilih untuk menjalani kehidupan yang berarti. Bukan sekadar m...

Teknologi untuk Kemanusiaan

 Belakangan ini, saya sedang mencoba membaca kembali dan memahami bagaimana perkembangan pemasaran dari masa ke masa. Salah satu buku yang menarik perhatian saya adalah Marketing 5.0: Technology for Humanity karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Ada satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini, yaitu bagaimana teknologi seharusnya digunakan untuk membantu manusia, bukan sekadar membuat bisnis menjadi lebih canggih. Sebagai seseorang yang pernah bekerja di industri perbankan, kemudian memilih jalan menjadi entrepreneur, dan saat ini juga mengajar di perguruan tinggi, saya melihat sendiri bagaimana teknologi mengubah cara kita bekerja, berbisnis, dan berinteraksi dengan konsumen. Perubahannya sangat cepat. Sesuatu yang beberapa tahun lalu terasa sulit dilakukan, sekarang bisa dikerjakan hanya dengan bantuan ponsel dan koneksi internet. Apalagi sejak kehadiran AI. Banyak hal yang dahulu membutuhkan waktu lama kini bisa dilakukan dengan jauh lebih cepat. M...