Langsung ke konten utama

Mengutarakan rasa bukanlah tanda kelemahan

Dalimunte



Dal, kalau ada sosok paling bijak yang aku kenal saat ini, mungkin orang itu adalah dirimu. Kau adalah anak laki-laki pertama di keluarga dan mempunyai tanggung jawab menjadi panutan bagi adik-adik serta menjadi pelindung bagi kakak perempuanmu kak Laisa.

Begini Dal, ada yang ingin aku diskusikan denganmu. Tentang menjadi kuat untuk tidak pernah mengutarakan rasa. Masyarakat kita sudah kandung menilai kalau bagi laki-laki, rasa itu tidak boleh diutarakan, karna itu tanda kelemahan.

"Mereka bilang laki-laki itu tidak boleh menangis, kalau tidak mau dianggap cengeng".

"Laki-laki itu tidak boleh berkeluh kesah, kalau tidak mau dianggap lemah".

Laki-laki itu harus kuat, biar rasa pedih itu disimpan rapat-rapat dalam hatinya.

Aku rasa anggapan itu tidak beralasan, Dal.

Menurutku tidak ada hubungannya menangis dan menjadi cengeng. Tidak ada korelasinya mengutarakan apa yang kita rasa dengan menjadi lemah.

Dan tidak ada kekuatan dibangun tanpa rasa kasih sayang dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu.

Aku sudah melihat hasil dari stigma yang sudah terlanjur tercipta dianggapan masyarakat, soal menjadi kuat tanpa boleh mengutarakan rasa.

Aku melihat bapak yang keras dan kaku dalam mendidik anak.

Pacar yang mengungkapkan kekesalan dengan membanting barang-barang tanpa mengutarakan apa yang menjadi alasan kekesalannya.

Pekerja yang resign dari perusahaan tanpa mengutarakan alasan yang sebetulnya.

Anak laki-laki yang berubah menjadi kemayu karna tidak mau mengikuti jejak ayah yang keras dan kasar.

Orang berkata kasar dijalanan.

Kekerasan dalam rumah tangga.

Hingga seseorang yang memutuskan untuk bunuh diri.

*Padahal, kalau mereka bisa memilih.

Mungkin bapak itu ingin mengutarakan kekhawatirannya kalau ia tidak ingin anak laki-lakinya mengambil jalan yang salah.

Seorang kekasih ingin mengungkapkan kalau dia cemburu apabila wanitanya dekat-dekat pria lain.

Seorang suami ingin istrinya lebih memanjakannya seperti dulu waktu pertama kali menikah.

Seorang pekerja ingin atasannya lebih memperhatikan dan menghargai semua hasil kerjanya.

Begitupun, anak laki-laki yang ingin mendapatkan panutan dari bapaknya dalam memimpin rumah tangga.

Seorang pengendara yang ingin dihargai hak lalulintasnya.

Dan seseorang yang depresi ingin didengar akan masalah yang sedang ia hadapi.

Akupun hampir berada diantara jajaran orang yang tidak berani mengungkapkan rasa, Dal. Menjadi orang yang tidak berani mengungkapkan isi hati, namun mengharuskan orang lain mengerti apa yang aku rasakan. Bukankah itu bentuk keegoisan? Tapi aku ingin berubah, jelas ingin berubah.

Karna mengutarakan rasa bukan tanda kelemahan kan, Dal?

Aku sendiri berjanji kalau mudah-mudahan di anugerahi seorang anak laki-laki nantinya, akan kubiarkan ia menangis mengungkapkan apa yang ia rasa. Aku akan membiarkannya menumpahkan kesedihannya melalui tangisan, walaupun ditempat ramai sekalipun.

Sampai akhirnya ia berhenti menangis.

Aku berjanji akan mendengarkan apa yang membuatnya sampai harus menangis. Akan aku perlihatkan kepadanya, bahwa tidak apa menangis asalkan ia tahu caranya untuk menyelesaikan masalahnya.

Setelah ia menceritakan semua hal yang membuatnya menangis, barulah akan kuberikan pengertian yang baik, Dal. Sesuatu yang mungkin belum ia sadari karna pengalamannya yang belum banyak.

Sehingga ia menyadari, bahwa tidak semua hal di dunia ini harus sesuai dengan keinginannya.

Bukankah itu lebih baik dari pada harus membuatnya diam dan memendam semua kekesalannya? Semua yang menjadi pertanyaan dalam hidupnya, yang mungkin akan ia bawa hingga tua nantinya.

Aku tidak mau seperti itu, biar kebiasaan itu berhenti padaku saja.

Aku tahu itu mudah sekali diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Sesulit menyuruh laki-laki yang sedang cemburu, lalu meminta ia memberi tahu wanitanya kalau dia sedang cemburu. Laki-laki itu terlalu gengsi, sama sepertiku.

Ini hanya masalah mengenal diri sendiri, Dal.

Teringat seorang sahabat di masa SMA dahulu yang mengenalku, ia memberikan saran agar aku lebih sering menulis. Ia tahu kalau aku ini seorang pemikir yang pendiam. Menulis menjadi sarana yang tepat untukku mengutarakan rasa.

Membuatku lebih waras.

Membuatku lebih mengenal diri sendiri.

Dahulu hanya kertas dan pulpen menjadi sarana yang membuatku lebih waras, sekarang aku lebih sedikit berani mempublish sedikit dari sekian banyak tulisan yang berasal dari fikiranku yang liar.

Lantas aku coba untuk sedikit demi sedikit lebih jujur dalam setiap tulisanku.

Kalau itu buruk akan kutulis buruk, kalau itu hancur akan kutulis hancur.

Tidak bisa semua remuk kutuliskan baik.

Aku manusia bukan malaikat.

Aku hanya ingin kamu tahu Dal, kalau semua pahit memang harus kita perlihatkan pahit sebagai mana mestinya dahulu, sebelum kita temukan sisi dimana manis itu berada.

Aku hanya ingin bilang di akhir diskusi ini, Dal. Bahwa aku mengajak kita semua untuk lebih berani mengutarakan rasa.

Karna tidak baik rasa itu disimpan terlalu lama di hati.

Yang tadinya manis, akan busuk dan menjadi pahit apabila disimpan terlalu lama.

Dan akupun mengajak agar kita semua menemukan cara untuk menyampaikan isi hati kita secara tepat. Kalau aku lebih nyaman mengutarakannya dengan tulisan, maka kamu bisa melakukannya dengan cara apapun. Serta yang terakhir, kita harus jujur dalam mengungkapkannya.

Mudah-mudahan kita sependapat, Dal.
Komunikasi via dok pribadi

Salam hangat dari Bogor untuk kak Lais, keluargamu, dan adikmu Yashinta.

Salam bertumbuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part 2. Pariwisata Bali: Kokoh dalam Kerapuhan

 Bali adalah surga pariwisata di Indonesia. Kekayaan geografis baik gunung, bentang alam, pantai, dan lautnya menjadi kekuatan semesta yang natural disajikan alam. Keragaman flora dan fauna tropis menyajikan realisme imajinasi atas keindahan hayati. Belum lagi didukung oleh manusia yang kreatif dalam tradisi khas yang unik dan lestari secara turun-menurun. Masyarakat yang terbuka dan bekercerdasan budaya juga turut merespon aktif potensi pariwisata yang dimiliki. Semuanya saling menguatkan dan menjadi keunggulan internal Bali sebagai tujuan pariwisata yang tersohor di dunia. 5 Menilik sejarah, keelokan pulau dewata ini telah mulai dikenal sejak tahun 1597 di manca negara. Pelaut Belanda, Cornelius Houtman, mengawali interaksi penduduk lokal dengan pihak Eropa. Meskipun kemudian Belanda dalam masa penjajahannya kemudian mengeksploitasi dan memecah belah kerajaan yang bertahta, namun kemolekan Bali telah tersingkap. Kemenangan pada Perang Puputan (perang sampai mati) Badung...

Part 5; Pasar: Hempasan Persaingan

 Mei 2021, Hotel Home masih tetap dibuka. Strategi penurunan harga yang diterapkan Formosa sedikit membuahkan hasil. Kamar yang semula dijual dengan harga Rp800.000 hingga Rp3.000.000, kini ditawarkan dengan harga Rp150.000 hingga Rp800.000. Beberapa rombongan kecil turis nusantara masuk menjadi tamu. “Lumayan, bisa untuk bertahan. Apapun akan kulakukan,” sedemikian gumam Formosa. Semalam, Formosa menerima informasi via surel yang dikirim oleh Edward, salah satu rekanan travel agent pelanggannya di Eropa. Melalui pesan itu, Edward menyampaikan bahwa belum ada pesanan masuk dari wisatawan mancanegara untuk memasuki Bali dan memesan kamar di Hotel Home. “It’s a terrible year. Please keep striving and looking forward to having a better year at 2022,” sedemikian terkutip dari pesan tersebut. Kejeblokan prospek pariwisata mancanegara menjadikan tahun 2021 ini sebagai tahun yang maha berat bagi Hotel Home. 20 Namun, bila bisa bertahan maka pada tahun 2022 diprediksi akan ada p...

Part 3; Covid-19: Hantaman Tsunami

 Di akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, dunia dibuat terhenyak dengan munculnya virus misterius yang berasal dari Kota Wuhan, Cina. Virus yang memicu penyakit pernafasan ini pada awalnya disebut dengan virus Corona atau 2019-nCov atau Novel Coronavirus. Corona adalah nama keluarga besar virus jenis ini. Corona diambil dari penampakan mikro virus yang berbentuk seperti gerhana matahari dan mahkota raja. Novel disematkan karena bermakna 9 paling baru, sementara angka 2019 mengacu pada tahun temuannya. Pada 12 Februari 2020, World Health Organization (WHO) mengumumkan nama resmi penyakit yang menyerang paru-paru ini yaitu Covid-19. Covid-19 merupakan singkatan dari kata Corona, virus, dan disease. Sementara angka 19 merujuk pada tahun ditemukannya virus ini yaitu 2019. Komite Taksonomi Virus Internasional menetapkan nama baru virus Corona baru di Wuhan sebagai SARS-Cov-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2). Apabila pada bulan Januari 2020, Covid-19 masih dira...