Langsung ke konten utama

Lelaki yang Jarang Disebut, tetapi Membuat Tempe Layak Dibanggakan

Kisah seorang anak Brebes yang gagal menjadi ABRI, merantau ke Bogor, menjadi pengurus koperasi di usia 19 tahun, hingga mendirikan Rumah Tempe Indonesia

Ada banyak nama yang muncul ketika kita berbicara tentang tempe Indonesia.

Ada nama-nama ilmuwan, akademisi, profesor, peneliti, pengusaha, hingga generasi baru entrepreneur yang berhasil membawa tempe ke berbagai penjuru dunia.

Ada yang dikenal sebagai tokoh teknologi pangan.

Ada yang dikenal sebagai profesor tempe.

Ada pula startup tempe dari luar negeri yang membuat dunia mulai mengenal tempe sebagai makanan fermentasi yang sehat, bernilai ekonomi, dan memiliki potensi global.

Nama-nama itu tentu memiliki kontribusinya masing-masing.

Tetapi di antara banyak nama tersebut, ada satu nama yang mungkin tidak terlalu sering disebut.

Namanya Sukhaeri.

Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Heri.

Ia bukan profesor.

Bukan pula seorang tokoh yang sejak muda bercita-cita menjadi “orang tempe”.

Bahkan, kalau boleh jujur, tempe mungkin bukanlah sesuatu yang pertama kali ia bayangkan ketika membangun masa depannya.

Ia hanya seorang anak laki-laki yang lahir di Brebes pada 1 Januari 1960, tumbuh dengan cita-cita sederhana seperti banyak anak muda pada zamannya.

Ia ingin menjadi ABRI.

Tetapi cita-cita itu tidak terwujud.

Ia gagal dalam seleksi.

Dan dari kegagalan itulah, tanpa pernah ia rencanakan, sebuah perjalanan panjang tentang koperasi, tempe, dan Rumah Tempe Indonesia dimulai.

Ketika Kegagalan Membawa Seseorang Pergi

Ada kegagalan yang terasa kecil ketika terjadi.

Tetapi ada pula kegagalan yang membuat seseorang tidak ingin pulang ke rumah.

Bagi Heri muda, tidak lulus seleksi ABRI adalah salah satunya.

Ia merasa malu.

Cita-cita yang begitu diinginkan tidak tercapai. Di usia muda, ketika seseorang mungkin masih sangat membutuhkan pengakuan dari keluarga dan lingkungan, kegagalan itu terasa seperti kehilangan arah.

Akhirnya ia memilih pergi.

Merantau.

Dari Brebes menuju Bogor.

Mungkin saat itu ia belum mengetahui bahwa keputusan untuk meninggalkan tanah kelahirannya justru akan membawanya kepada kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang ia bayangkan.

Bogor kemudian menjadi tempat ia memulai babak baru kehidupannya.

Di kota itulah, melalui seorang pamannya, ia diperkenalkan kepada dunia koperasi.

Sebelumnya, Heri sempat mendapatkan kesempatan menjadi pegawai negeri sipil.

Tetapi jalan hidup justru membawanya ke koperasi produsen tempe dan tahu.

Dan ada sesuatu yang menarik dari pilihan tersebut.

Saat itu, menjadi pengurus koperasi ternyata memberikan penghasilan yang lebih baik dibandingkan menjadi seorang PNS.

Maka seorang anak muda berusia 19 tahun masuk ke dalam dunia koperasi.

Usia yang bagi sebagian orang masih menjadi masa untuk mencari tahu ingin menjadi siapa.

Tetapi Heri justru sudah mulai berhadapan dengan dunia orang dewasa.

Dengan anggota koperasi.

Dengan pengrajin tempe dan tahu.

Dengan harga kedelai.

Dengan persoalan produksi.

Dengan persoalan distribusi.

Dengan persoalan ekonomi para pengrajin.

Ia belajar bukan dari ruang kuliah.

Ia belajar dari kehidupan.

Usia 19 Tahun dan Dunia yang Tidak Sederhana

Menjadi pengurus koperasi pada usia 19 tahun bukan sesuatu yang mudah.

Di hadapannya adalah para pengrajin yang sebagian besar sudah lebih tua.

Mereka telah bertahun-tahun membuat tempe.

Mereka tahu bagaimana memilih kedelai.

Mereka tahu kapan kedelai harus direbus.

Mereka tahu bagaimana ragi bekerja.

Mereka tahu kapan tempe akan jadi.

Mereka menjalani semua itu hampir setiap hari.

Sementara Heri masih sangat muda.

Ia harus belajar bagaimana berbicara kepada orang yang lebih tua.

Bagaimana mendapatkan kepercayaan.

Bagaimana menyelesaikan masalah.

Bagaimana memahami kebutuhan anggota.

Dan bagaimana melihat sebuah usaha bukan hanya dari sisi produknya, tetapi juga dari sisi manusianya.

Koperasi kemudian menjadi sekolah kehidupan bagi Heri.

Di sana ia mulai memahami bahwa tempe bukan sekadar makanan.

Di balik satu bungkus tempe ada seorang pengrajin.

Di balik pengrajin ada keluarga.

Di balik keluarga ada kebutuhan untuk hidup.

Dan di belakang semua itu ada sebuah ekosistem ekonomi yang jauh lebih besar.

Barangkali pengalaman inilah yang kemudian membuat cara pandangnya terhadap tempe menjadi berbeda.

Ia tidak melihat tempe hanya sebagai barang dagangan.

Ia melihat tempe sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Kegelisahan yang Tidak Semua Orang Lihat

Bertahun-tahun berada di lingkungan koperasi membuat Heri semakin dekat dengan dunia tempe.

Ia mengenal para pengrajin.

Ia melihat proses produksinya.

Ia melihat bagaimana tempe dibuat.

Dan justru karena melihatnya dari dekat, muncul sebuah kegelisahan.

Mengapa tempe yang begitu penting bagi masyarakat Indonesia sering kali dibuat dengan cara yang kurang baik?

Pada masa itu, banyak tempat produksi tempe dan tahu masih sangat sederhana.

Sebagian bahkan jauh dari standar kebersihan yang ideal.

Bagi pengrajin, kondisi tersebut mungkin merupakan sesuatu yang biasa.

Mereka telah terbiasa bekerja dengan cara itu.

Tetapi bagi orang yang datang dari luar, pemandangan tersebut bisa menjadi sesuatu yang berbeda.

Heri sering mengalami situasi ketika ada tamu koperasi atau calon pembeli yang ingin melihat langsung proses pembuatan tempe.

Mereka datang dengan rasa penasaran.

Ingin melihat bagaimana kedelai berubah menjadi tempe.

Ingin mengetahui proses di balik makanan yang setiap hari mereka makan.

Tetapi ketika sampai di tempat produksi, tidak semua orang merasa nyaman.

Ada yang kemudian kehilangan selera.

Bahkan ada pengunjung yang setelah melihat proses produksi tempe justru tidak mau lagi makan tempe.

Di sisi lain, para pengrajin juga merasa terganggu.

Mereka bisa bertanya,

“Kenapa harus sampai melihat dapur?”

Bagi mereka, itu adalah tempat bekerja.

Tempat mencari nafkah.

Tempat membuat tempe setiap hari.

Tetapi bagi konsumen, tempat produksi adalah bagian dari pengalaman terhadap sebuah produk.

Dan di situlah Heri melihat sebuah persoalan yang lebih besar.

Tempenya sebenarnya tidak bermasalah.

Yang menjadi masalah adalah cara tempe diproduksi dan bagaimana proses tersebut membentuk persepsi orang terhadap tempe.

Dari Rasa Resah Menjadi Sebuah Gagasan

Mungkin sebagian orang akan berhenti pada keluhan.

“Tempe harusnya dibuat lebih bersih.”

“Pengrajin harus menjaga higienitas.”

“Tempat produksinya harus diperbaiki.”

Tetapi Heri berpikir berbeda.

Kalau memang ingin pengrajin berubah, harus ada contoh.

Tidak cukup hanya mengatakan.

Harus ada tempat yang bisa dilihat.

Harus ada tempat yang bisa dikunjungi.

Harus ada tempat yang menunjukkan bahwa tempe dapat dibuat dengan cara yang bersih, modern, dan tetap mempertahankan karakter tradisionalnya.

Dari kegelisahan itulah muncul sebuah gagasan.

Sebuah tempat yang kemudian diberi nama:

Rumah Tempe Indonesia.

Sebuah rumah.

Bukan sekadar pabrik.

Bukan sekadar tempat memproduksi tempe.

Tetapi sebuah tempat untuk menunjukkan kepada para pengrajin bahwa membuat tempe secara bersih bukan sesuatu yang mustahil.

Bahwa pengrajin kecil pun bisa naik kelas.

Bahwa tempe sebagai makanan rakyat juga layak diperlakukan dengan standar yang tinggi.

6 Juni 2012

Pada 6 Juni 2012, Rumah Tempe Indonesia berdiri.

Tanggal itu kelak menjadi bagian penting dari perjalanan tempe Indonesia.

Menariknya, tanggal 6 Juni juga merupakan tanggal kelahiran Ir. Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia.

Dan kemudian tanggal tersebut menjadi inspirasi lahirnya Hari Tempe Nasional.

Ada semacam pertemuan cerita di sana.

Seorang tokoh bangsa yang pernah menggunakan tempe sebagai bagian dari metafora tentang bangsa Indonesia.

Dan sebuah rumah yang dibangun untuk menunjukkan bahwa tempe sebenarnya bisa memiliki wajah yang berbeda.

Lebih bersih.

Lebih modern.

Lebih bermartabat.

“Jangan Mau Menjadi Bangsa Tempe”

Ada satu kalimat Bung Karno yang sangat terkenal:

“Jangan mau menjadi bangsa tempe.”

Kalimat itu sering dimaknai sebagai pesan agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa yang lemah dan mudah diinjak-injak.

Namun jika kita melihat sejarah dan karakter tempe dari sudut pandang yang lebih luas, ada beberapa simbol yang menarik untuk direnungkan.

Tempe dahulu sering dikaitkan dengan proses pembuatan yang sangat sederhana, bahkan ada anggapan tentang proses yang menggunakan kaki.

Maka ketika Bung Karno mengatakan jangan menjadi bangsa tempe, kita bisa membacanya sebagai metafora:

Jangan mau menjadi bangsa yang diinjak-injak.

Tempe juga merupakan makanan yang mengalami perubahan sangat cepat.

Kedelai yang pagi hari masih berupa biji kedelai, melalui proses fermentasi, kemudian berubah menjadi tempe.

Dari sini kita bisa melihat metafora lain:

Jangan menjadi bangsa yang mudah berubah pendirian.

Dan tempe juga memiliki karakter yang membutuhkan perlakuan tertentu agar tidak cepat rusak.

Maka muncul lagi sebuah renungan:

Jangan menjadi bangsa yang lemah.

Tetapi ada sesuatu yang menarik.

Di balik kalimat “jangan menjadi bangsa tempe”, ada fakta bahwa tempe sendiri bukanlah sesuatu yang harus direndahkan.

Tempe justru merupakan makanan yang dekat dengan kehidupan rakyat.

Tempe hadir di meja makan.

Tempe murah dan terjangkau.

Tempe menjadi sumber protein.

Tempe menjadi sumber penghasilan bagi ribuan, bahkan jutaan orang yang hidup dari ekosistem kedelai dan tempe.

Maka mungkin persoalannya bukan pada tempenya.

Melainkan pada bagaimana bangsa Indonesia memandang dirinya sendiri.

Dan sekarang, setelah tempe dapat diproduksi dengan proses yang lebih bersih, fasilitas yang lebih modern, standar keamanan pangan yang lebih baik, bahkan dipasarkan hingga berbagai negara, mungkin ada sebuah kalimat yang layak direnungkan:

Jika Bung Karno hidup di zaman sekarang dan melihat bagaimana tempe diproduksi secara modern, mungkin ia akan berkata:

“Kalau begitu, sekarang kita harus bangga menjadi bangsa tempe.”

Tentu itu hanyalah sebuah refleksi.

Namun refleksi tersebut terasa relevan.

Sebab tempe telah membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana tidak harus selamanya dipandang sederhana.

Ketika Tempe Mendapatkan Standar

Perjalanan Rumah Tempe Indonesia kemudian memasuki babak yang lebih besar.

Kegelisahan tentang kebersihan tidak berhenti sebagai wacana.

Ia diterjemahkan menjadi sistem produksi.

Fasilitas diperbaiki.

Proses diperhatikan.

Kebersihan menjadi bagian penting dari produksi.

Dan akhirnya, Rumah Tempe Indonesia menjadi penerima Standar Nasional Indonesia untuk tempe yang pertama.

Ini bukan sekadar tentang selembar sertifikat.

Di balik standar itu ada perubahan cara berpikir.

Tempe yang selama ini dianggap sebagai makanan rakyat ternyata bisa dibicarakan dalam bahasa yang sama dengan produk pangan modern:

kualitas, keamanan pangan, standardisasi, konsistensi, dan daya saing.

Tempe tidak kehilangan identitasnya.

Yang berubah adalah cara kita memperlakukannya.

Dan mungkin di situlah salah satu warisan terbesar dari perjalanan Heri.

Ia tidak berusaha membuat tempe menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Ia hanya ingin menunjukkan:

Tempe bisa tetap menjadi tempe, tetapi dibuat dengan cara yang lebih baik.


Seorang Ayah yang Membangun Sebuah Rumah

Ada bagian dari kisah ini yang bagi saya terasa paling personal.

Karena lelaki bernama Heri itu bukan hanya pendiri Rumah Tempe Indonesia.

Ia adalah ayah saya.

Dan mungkin karena saya adalah anaknya, saya melihat sisi yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Orang mungkin melihat Rumah Tempe Indonesia sebagai sebuah institusi.

Sebagai tempat produksi.

Sebagai brand.

Sebagai bagian dari sejarah tempe Indonesia.

Tetapi bagi saya, di balik semua itu ada seorang ayah yang bertahun-tahun membawa kegelisahan yang sama.

Tentang bagaimana tempe dibuat.

Tentang bagaimana pengrajin dipandang.

Tentang bagaimana makanan rakyat Indonesia seharusnya diperlakukan.

Saya tumbuh dengan cerita tentang koperasi, pengrajin, kedelai, tempe, dan berbagai persoalan yang mungkin bagi anak lain terdengar biasa.

Tetapi semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa apa yang dilakukan ayah saya sebenarnya bukan sesuatu yang sederhana.

Ia memulai semuanya bukan dengan kemewahan.

Bukan dengan popularitas.

Bukan dengan gelar akademik.

Bahkan perjalanan itu dimulai dari sebuah kegagalan.

Gagal menjadi ABRI.

Malu.

Merantau.

Kemudian menemukan koperasi.

Menjadi pengurus di usia 19 tahun.

Belajar dari para pengrajin.

Melihat masalah.

Merasa resah.

Dan akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah contoh.

Rumah Tempe Indonesia.

Orang yang Tidak Banyak Disebut

Ketika orang berbicara tentang tempe Indonesia, mungkin nama Heri tidak akan langsung muncul.

Dan saya tidak menulis kisah ini untuk menghapus nama-nama lain.

Saya justru percaya setiap orang memiliki kontribusinya masing-masing.

Tetapi saya ingin menyampaikan satu hal:

Sejarah tidak selalu hanya dibangun oleh orang-orang yang paling sering disebut.

Ada orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan.

Ada orang-orang yang tidak banyak tampil di panggung.

Ada orang-orang yang mungkin tidak memiliki gelar akademik yang panjang.

Tetapi mereka memilih untuk mengerjakan sesuatu selama puluhan tahun.

Heri adalah salah satunya.

Ia memulai perjalanan itu sebagai anak muda dari Brebes yang merasa gagal.

Hari ini, nama yang sama berada di balik sebuah rumah yang telah menjadi bagian dari perjalanan modern tempe Indonesia.

Rumah itu berdiri sejak 6 Juni 2012.

Dan mungkin, tanpa pernah direncanakan sejak awal, rumah tersebut telah menjadi lebih dari sekadar tempat produksi.

Ia menjadi sebuah pesan.

Bahwa tempe bisa dibuat dengan bersih.

Bahwa tempe bisa memiliki standar.

Bahwa pengrajin tempe bisa naik kelas.

Bahwa makanan rakyat bisa memiliki martabat.

Dan bahwa sesuatu yang sederhana dapat membawa cerita yang luar biasa.

Dari Ayah kepada Anak

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya melihat perjalanan itu dengan cara yang berbeda.

Dulu mungkin saya hanya mengenal beliau sebagai ayah.

Sekarang saya mulai melihatnya sebagai seseorang yang memiliki perjalanan hidupnya sendiri.

Seorang anak Brebes.

Seorang pemuda yang pernah gagal mengejar cita-cita.

Seorang perantau.

Seorang pengurus koperasi termuda.

Seorang pengusaha.

Seorang pendiri Rumah Tempe Indonesia.

Dan akhirnya, seorang ayah yang meninggalkan lebih dari sekadar sebuah perusahaan.

Ia meninggalkan sebuah gagasan.

Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang perubahan dimulai dari sebuah kegelisahan kecil.

Dari pertanyaan sederhana:

“Kenapa tempe harus dibuat seperti ini?”

Lalu seseorang memilih untuk mencari jawabannya.

Membangun contohnya.

Menjalankannya.

Dan bertahan puluhan tahun.

Mungkin Inilah Arti “Bangsa Tempe”

Tempe mengajarkan sesuatu yang unik kepada kita.

Ia lahir dari proses.

Kedelai yang keras tidak langsung menjadi tempe.

Ia harus direndam.

Direbus.

Dikupas.

Didinginkan.

Diberi ragi.

Kemudian dibiarkan berproses.

Perubahan itu tidak terjadi dalam satu malam.

Tetapi ketika prosesnya selesai, sesuatu yang baru telah lahir.

Mungkin perjalanan hidup Heri juga seperti itu.

Ia pernah mengalami kegagalan.

Kemudian merantau.

Masuk koperasi.

Belajar.

Menghadapi persoalan.

Merasa resah.

Mencoba.

Gagal.

Bangkit.

Dan terus berproses.

Sampai akhirnya lahirlah Rumah Tempe Indonesia.

Mungkin itulah alasan mengapa kisahnya layak diceritakan.

Bukan karena ia ingin dikenal.

Tetapi justru karena ia terlalu lama bekerja tanpa banyak dikenal.

Di tengah banyaknya nama besar dalam perjalanan tempe Indonesia, ada seorang lelaki bernama Sukhaeri.

Heri.

Lahir di Brebes pada 1 Januari 1960.

Pernah gagal menjadi ABRI.

Merantau ke Bogor.

Menjadi pengurus koperasi di usia 19 tahun.

Dan kemudian mendirikan sebuah rumah untuk tempe.

Sebuah rumah yang mencoba mengubah satu hal sederhana:

cara kita memandang tempe.

Dari makanan sederhana menjadi makanan yang layak dibanggakan.

Dari produk rakyat menjadi produk yang memiliki standar.

Dari dapur yang tersembunyi menjadi industri yang dapat ditunjukkan dengan bangga.

Dan mungkin, pada akhirnya, pesan yang paling indah bukanlah:

“Jangan menjadi bangsa tempe.”

Melainkan:

Jadilah bangsa yang mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang membanggakan.

Karena jika kita melihat perjalanan tempe hari ini, mungkin kita akhirnya mengerti:

Menjadi bangsa tempe bukanlah sesuatu yang memalukan.

Yang penting adalah bagaimana kita membuatnya.

Bagaimana kita menjaganya.

Bagaimana kita mengembangkannya.

Dan bagaimana kita membuat dunia mengenalnya.

Dan di balik perjalanan panjang itu, ada seorang lelaki yang mungkin tidak banyak disebut.

Tetapi memilih untuk terus bekerja.

Namanya Heri.

Dan ini adalah kisahnya.

Bela Putra Perdana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Kahfi (Gua)-4

Qur'an journaling Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah ke haribaan Rasulullah s.a.w., keluarganya serta para sahabatnya. Wa Ba'du. - (Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu*.) (QS. Al Kahfi: 16) *Perkataan ini terjadi antara mereka sendiri yang timbulnya karena ilham dari Allah. - Hadist yg sesuai Hadis Nabawi; Menyelamatkan Agama dari Fitrah. Dari Abu Sa'id Al-Khudri, dia berkata, "Rasulullah Saw. bersabda, Hampir saja terjadi (suatu zaman) dimana ketika itu harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnah." (HR Bukhari, Sahihul Bukhari, Juz 1, N...

Agriyaponik: Membangun Agroindustri Berkelanjutan dari Cibubur, Indonesia

Di tengah kawasan Cibubur yang asri dan tidak jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, sebuah revolusi pertanian sedang berlangsung secara senyap namun berdampak besar. Di persimpangan antara teknologi, keberlanjutan, dan ketahanan pangan, berdirilah Agriyaponik —sebuah inisiatif agroindustri inovatif yang mendefinisikan ulang cara kita menanam, mengonsumsi, dan memandang pangan di Indonesia. Apa Itu Agriyaponik? Agriyaponik adalah usaha agroindustri modern yang menggabungkan dua sistem pertanian tanpa tanah: akuaponik dan hidroponik . Sistem ini memadukan budidaya tanaman dan ikan dalam satu ekosistem tertutup yang saling menguntungkan. Metode ini secara signifikan menghemat penggunaan air, tidak memerlukan lahan luas, serta menghilangkan kebutuhan akan pupuk kimia atau pestisida. Berlokasi di Cibubur , Agriyaponik bukan sekadar kebun. Ia adalah laboratorium hidup untuk pertanian berkelanjutan, pusat pelatihan bagi petani urban masa depan, dan model sistem pangan masa depan di wilayah padat ...

Kalau saja aku mampu-Fiersa Besari

Puisi karya Fiersa Besari Marry me? via unplash Kalau saja aku mampu, sudah kukejar langkahmu agar kita dapat berjalan berdampingan. Kalau saja aku mampu, sudah kuhiasi hari-harimu dengan penuh senyuman. Kalau saja aku mampu, sudah kutemani dirimu saat dirundung kesedihan. Kalau saja aku mampu, sudah kupastikan bahwa aku pantas untuk kau sandingkan. Kalau saja aku mampu, sudah kubalikkan waktu agar saat itu tak jadi mengenalmu. Kalau saja aku mampu, sudah kuarungi hariku tanpa harus memikirkanmu. Kalau saja aku mampu, sudah kutarik jiwaku yang ingin berada di sebelahmu. Kalau saja aku mampu, sudah kuminta hatiku agar berhenti merasakanmu. Tapi, aku mampu untuk memandangimu dari kejauhan tanpa pernah berhenti mendoakan. Aku juga mampu menjadi rumah untukmu, menunggumu yang tak tahu arah pulang. Sungguh aku mampu merindukanmu tanpa tahu waktu, tanpa sedikitpun alasan. Untukmu, aku mampu. Karena kau pantas dengan semua pengorbanan. " Rasa yang tidak t...