Langsung ke konten utama

The Let Them Theory

Buku yang sedang saya baca saat ini adalah The Let Them Theory karya Mel Robbins. Saya cukup sering membaca buku tentang pengembangan diri, bisnis, leadership, maupun entrepreneurship. Tetapi ada beberapa buku yang tidak berhenti ketika halaman terakhir selesai dibaca. Ada gagasan tertentu yang justru membuat kita berhenti sejenak dan melihat kembali kehidupan kita sendiri. Buat saya, The Let Them Theory adalah salah satunya.


Konsep utama buku ini sebenarnya sangat sederhana: “Let them.” Biarkan mereka. Sederhana sekali, tetapi semakin saya baca, semakin saya merasa bahwa justru hal sederhana seperti ini yang sering sulit kita praktikkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghabiskan banyak energi untuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kenapa seseorang tidak membalas pesan, kenapa ada orang yang tidak mendukung keputusan kita, kenapa seseorang berubah, atau kenapa orang lain tidak memahami apa yang sedang kita kerjakan. Kita bahkan terkadang terlalu sibuk menjelaskan diri kepada orang lain. Padahal, kita tidak mungkin mengendalikan pikiran, pilihan, maupun respons orang lain.

Saya pun pernah berada di posisi seperti itu. Ketika menjalani banyak aktivitas sebagai entrepreneur, dosen, sekaligus sedang menjalani pendidikan doktoral, tentu ada banyak keputusan yang saya ambil. Ada yang mendukung, ada yang bertanya-tanya, ada yang memberikan masukan, dan mungkin ada juga yang tidak terlalu peduli. Dulu, mungkin saya akan merasa perlu menjelaskan semuanya. Sekarang saya mulai belajar bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan dan tidak semua orang harus memahami pilihan kita.

Let them.

Biarkan orang lain memiliki pendapatnya. Kita tetap bisa mendengarkan kritik, tetapi tidak harus menjadikan semua pendapat sebagai beban. Kita bisa menerima bahwa tidak semua orang akan setuju dengan keputusan kita. Kita juga tidak harus menghabiskan energi untuk meyakinkan semua orang.

Dalam bisnis, konsep ini menurut saya juga sangat relevan. Ketika membangun bisnis, kita akan bertemu dengan banyak sekali respons. Ada konsumen yang suka, ada yang tidak tertarik. Ada calon partner yang antusias, ada juga yang akhirnya tidak memberikan kabar. Ada orang yang percaya dengan apa yang kita bangun, ada juga yang meragukannya. Kalau semuanya kita pikirkan, energi kita bisa habis sebelum bisnisnya berkembang.

Tugas kita bukan membuat semua orang setuju. Tugas kita adalah terus memperbaiki apa yang memang bisa kita perbaiki. Produk diperbaiki, pelayanan ditingkatkan, tim dikembangkan, pengetahuan ditambah, strategi dievaluasi, lalu perjalanan dilanjutkan.

Tetapi let them juga bukan berarti kita pasrah atau membiarkan orang memperlakukan kita sesuka hati. Kalau ada batas yang dilanggar, kita tetap boleh mengambil sikap. Kalau sebuah hubungan tidak lagi sehat, kita boleh menjaga jarak. Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai yang kita pegang, kita boleh mengatakan tidak. Jadi, bagi saya, let them bukan tentang menyerah, tetapi tentang memahami mana yang menjadi kendali kita dan mana yang bukan.

Ada satu hal lain yang saya dapatkan dari buku ini: kita tidak harus terlalu sibuk menjelaskan diri kepada semua orang. Kenapa kita mengambil keputusan tertentu, kenapa kita memilih jalan tertentu, kenapa kita menjalankan bisnis tertentu, atau kenapa kita melanjutkan pendidikan. Tidak semua orang membutuhkan penjelasan itu. Dan bahkan setelah kita menjelaskan berkali-kali, belum tentu mereka akan mengerti. Mungkin ada waktunya kita cukup berkata dalam hati, “It's okay. Let them think what they want.” Setelah itu, kita kembali mengerjakan apa yang memang menjadi bagian kita.

Dalam perjalanan hidup, kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang datang dan pergi. Teman, partner bisnis, rekan kerja, bahkan orang yang pernah sangat dekat dengan kita. Tidak semuanya akan berjalan sampai tujuan yang sama. Ada orang yang hadir untuk waktu tertentu, memberikan pengalaman, membantu kita tumbuh, lalu akhirnya memilih jalan yang berbeda. Mungkin tidak semuanya harus dipaksa untuk tetap tinggal.

Semakin membaca buku ini, saya semakin merasa bahwa salah satu bentuk kedewasaan adalah mengetahui apa yang perlu kita perjuangkan dan apa yang perlu kita lepaskan. Tidak semua komentar harus dijawab. Tidak semua kritik harus dibalas. Tidak semua orang harus diyakinkan. Tidak semua orang harus menyukai kita. Dan tidak semua keputusan kita harus dipahami oleh orang lain.

Setelah mengatakan “Let them”, menurut saya ada pertanyaan yang jauh lebih penting: “Lalu saya mau melakukan apa?” Kalau mereka tidak setuju, saya mau bagaimana? Kalau mereka tidak mendukung, apakah saya akan berhenti? Kalau mereka pergi, apakah saya akan terus melihat ke belakang? Atau saya tetap melanjutkan perjalanan?

Pada akhirnya, kita memang tidak bisa mengendalikan orang lain. Tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita merespons, keputusan yang kita ambil, dan ke mana kita ingin membawa hidup kita.

Saya sendiri belum selesai membaca The Let Them Theory. Tetapi mungkin kita memang tidak harus menunggu sampai sebuah buku selesai untuk mendapatkan pelajarannya. Kadang satu gagasan saja sudah cukup untuk membuat kita berpikir ulang.

Dan untuk saat ini, satu kalimat yang saya bawa dari buku ini adalah:

Let them.

Biarkan mereka memilih. Biarkan mereka berpikir. Biarkan mereka menilai. Biarkan mereka memiliki jalan masing-masing. Sementara kita terus berjalan dengan jalan kita sendiri.

Karena mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengurus apa yang dilakukan orang lain, sampai lupa bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk kita urus: diri kita sendiri, keluarga, pekerjaan, bisnis, pendidikan, dan perjalanan yang sedang kita bangun.

Kalau ada sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan, mungkin sesekali kita hanya perlu menarik napas dan berkata:

Let them.

Lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Bela Putra Perdana


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Professional Marketing vs Entrepreneurial Marketing

 Selama ini kita mengenal marketing sebagai sebuah disiplin yang sangat terstruktur. Ada market research, segmentation, targeting, positioning, marketing mix, consumer behavior, marketing strategy , hingga berbagai indikator untuk mengukur keberhasilan sebuah aktivitas pemasaran. Semua dilakukan dengan data. Semua direncanakan. Semua diukur. Pendekatan inilah yang kemudian dapat kita pahami sebagai professional marketing . Namun, dunia bisnis berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Teknologi berkembang, perilaku konsumen berubah, batas antarindustri semakin kabur, dan berbagai peluang baru muncul bahkan sebelum konsumen sendiri menyadari bahwa mereka membutuhkannya. Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan menarik: Apakah marketing cukup hanya menjadi semakin profesional? Philip Kotler bersama Hermawan Kartajaya, Hooi Den Huan, dan Jacky Mussry melalui buku Entrepreneurial Marketing menawarkan perspektif yang menarik: marketing perlu bergerak beyond professionalis...

Lelaki yang Jarang Disebut, tetapi Membuat Tempe Layak Dibanggakan

Kisah seorang anak Brebes yang gagal menjadi ABRI, merantau ke Bogor, menjadi pengurus koperasi di usia 19 tahun, hingga mendirikan Rumah Tempe Indonesia Ada banyak nama yang muncul ketika kita berbicara tentang tempe Indonesia. Ada nama-nama ilmuwan, akademisi, profesor, peneliti, pengusaha, hingga generasi baru entrepreneur yang berhasil membawa tempe ke berbagai penjuru dunia. Ada yang dikenal sebagai tokoh teknologi pangan. Ada yang dikenal sebagai profesor tempe. Ada pula startup tempe dari luar negeri yang membuat dunia mulai mengenal tempe sebagai makanan fermentasi yang sehat, bernilai ekonomi, dan memiliki potensi global. Nama-nama itu tentu memiliki kontribusinya masing-masing. Tetapi di antara banyak nama tersebut, ada satu nama yang mungkin tidak terlalu sering disebut. Namanya Sukhaeri . Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Heri . Ia bukan profesor. Bukan pula seorang tokoh yang sejak muda bercita-cita menjadi “orang tempe”. Bahkan, kalau boleh jujur, tempe mungkin bu...

Marketing 1.0 sampai 6.0 Evolusi Pemikiran Philip Kotler tentang Pemasaran

Pengalaman saya menjadi pembicara di marketing festival di pekan baru dan Jogja. Ketika berbicara tentang pemasaran, nama Philip Kotler hampir selalu menjadi salah satu rujukan utama. Selama beberapa dekade, Kotler bersama Hermawan Kartajaya mengembangkan pemikiran mengenai bagaimana pemasaran terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat, teknologi, dan perilaku konsumen. Perubahan tersebut kemudian sering dijelaskan melalui konsep Marketing 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, hingga 6.0 . Menariknya, perubahan ini bukan berarti konsep sebelumnya menjadi tidak relevan. Justru, setiap tahap merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Produk tetap penting, konsumen tetap penting, nilai kemanusiaan tetap penting, dan teknologi semakin menjadi bagian yang menghubungkan semuanya. Lalu, bagaimana evolusi tersebut? Marketing 1.0: Product-Centric Marketing 1.0 merupakan fase ketika pemasaran sangat berorientasi pada produk . Pada era ini, perusahaan berfokus pada bagaimana menghasilkan produk secar...