Pengalaman saya menjadi pembicara di marketing festival di pekan baru dan Jogja. Ketika berbicara tentang pemasaran, nama Philip Kotler hampir selalu menjadi salah satu rujukan utama. Selama beberapa dekade, Kotler bersama Hermawan Kartajaya mengembangkan pemikiran mengenai bagaimana pemasaran terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat, teknologi, dan perilaku konsumen.
Perubahan tersebut kemudian sering dijelaskan melalui konsep Marketing 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, hingga 6.0.
Menariknya, perubahan ini bukan berarti konsep sebelumnya menjadi tidak relevan. Justru, setiap tahap merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Produk tetap penting, konsumen tetap penting, nilai kemanusiaan tetap penting, dan teknologi semakin menjadi bagian yang menghubungkan semuanya.
Lalu, bagaimana evolusi tersebut?
Marketing 1.0: Product-Centric
Marketing 1.0 merupakan fase ketika pemasaran sangat berorientasi pada produk.
Pada era ini, perusahaan berfokus pada bagaimana menghasilkan produk secara efisien, dalam jumlah besar, dengan harga yang kompetitif. Konsumen terutama dipandang sebagai pihak yang membeli produk yang ditawarkan perusahaan.
Pertanyaan utama pada tahap ini adalah:
“Apa yang dapat kita produksi?”
Kualitas produk, efisiensi produksi, distribusi, dan harga menjadi perhatian utama.
Dalam konteks industri agribisnis, misalnya, fokus Marketing 1.0 dapat terlihat dari bagaimana produsen berusaha menghasilkan produk agribisnis dalam jumlah yang cukup, dengan kualitas yang konsisten dan biaya produksi yang efisien.
Namun, ketika pilihan konsumen semakin banyak, sekadar memiliki produk yang baik tidak lagi cukup.
Di sinilah Marketing 2.0 berkembang.
Marketing 2.0: Customer-Oriented
Marketing 2.0 membawa perhatian perusahaan dari produk kepada konsumen.
Perusahaan mulai menyadari bahwa konsumen memiliki kebutuhan, keinginan, preferensi, dan karakteristik yang berbeda.
Karena itu, konsep seperti segmentation, targeting, dan positioning (STP) menjadi semakin penting.
Pertanyaan yang mulai muncul bukan lagi hanya:
“Apa yang bisa kita produksi?”
tetapi:
“Apa yang sebenarnya dibutuhkan konsumen?”
Perusahaan mulai melakukan riset pasar, memahami perilaku konsumen, mengembangkan segmentasi, dan menciptakan produk yang lebih sesuai dengan target pasar.
Dalam industri agribisnis, misalnya, konsumen tidak lagi dianggap sebagai satu kelompok yang sama. Ada konsumen yang mencari produk agribisnis dengan harga terjangkau, ada yang memperhatikan kandungan gizi, ada yang mencari produk organik, dan ada pula yang membutuhkan produk yang praktis.
Perusahaan kemudian harus memahami perbedaan tersebut.
Marketing 3.0: Human-Centric
Marketing 3.0 membawa pemasaran ke tingkat yang lebih luas.
Konsumen tidak lagi dipandang hanya sebagai consumer, tetapi sebagai manusia yang memiliki pikiran, hati, nilai, dan kepedulian terhadap lingkungan maupun masyarakat.
Dalam pendekatan ini, perusahaan tidak hanya menjual fungsi produk, tetapi juga nilai dan makna.
Pertanyaan yang muncul menjadi:
“Nilai apa yang dapat kita berikan kepada manusia dan masyarakat?”
Inilah era ketika isu seperti keberlanjutan, tanggung jawab sosial, nilai kemanusiaan, dan purpose perusahaan menjadi semakin penting.
Untuk produk agribisnis organik, misalnya, nilai yang ditawarkan tidak berhenti pada “produk sebagai sumber protein”.
Ada nilai lain yang dapat dikomunikasikan: pola hidup sehat, pertanian yang lebih berkelanjutan, dukungan terhadap petani, pemberdayaan produsen, serta pelestarian pangan lokal.
Produk akhirnya memiliki functional value sekaligus emotional dan social value.
Marketing 4.0: From Traditional to Digital
Kemunculan internet, media sosial, smartphone, dan berbagai platform digital membawa perubahan besar dalam perilaku konsumen.
Marketing 4.0 menjelaskan transisi dari pemasaran tradisional menuju pemasaran yang semakin digital dan terkoneksi.
Konsumen sekarang dapat mengetahui produk melalui media sosial, membaca ulasan, membandingkan harga, bertanya kepada komunitas, membeli secara online, hingga membagikan pengalamannya kepada orang lain.
Karena itu, hubungan antara perusahaan dan konsumen menjadi semakin interaktif.
Salah satu konsep penting dalam Marketing 4.0 adalah perubahan perjalanan konsumen dari:
Awareness → Appeal → Ask → Act → Advocate
Konsumen pertama-tama mengetahui sebuah merek. Kemudian tertarik, mencari informasi, melakukan pembelian, dan jika mendapatkan pengalaman positif, dapat menjadi advocate bagi merek tersebut.
Dalam konteks produk organik, konsumen mungkin pertama kali melihat konten dari brand agribisnis di Instagram.
Kemudian mereka tertarik karena melihat klaim organik dan manfaat produk. Mereka mencari informasi lebih lanjut, membaca review, bertanya kepada teman, kemudian membeli.
Jika pengalaman mereka baik, mereka mungkin mengunggah produk tersebut atau merekomendasikannya kepada orang lain.
Pemasaran tidak berhenti pada transaksi.
Pemasaran berkembang menjadi engagement dan advocacy.
Marketing 5.0: Technology for Humanity
Jika Marketing 4.0 berbicara tentang konektivitas digital, Marketing 5.0 membawa pembahasan lebih jauh:
Bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menciptakan value bagi manusia?
Di sinilah teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), big data, automation, predictive analytics, dan personalization menjadi semakin penting.
Namun, inti Marketing 5.0 bukan sekadar menggunakan teknologi karena teknologi tersebut tersedia.
Teknologi harus digunakan untuk membantu perusahaan memahami dan melayani manusia dengan lebih baik.
Contohnya, perusahaan dapat menggunakan data untuk memahami pola pembelian konsumen, memprediksi permintaan, melakukan personalisasi komunikasi, atau mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan pasar.
Dalam industri agribisnis, data konsumen dapat digunakan untuk mengetahui produk mana yang paling diminati, kapan permintaan meningkat, bagaimana karakteristik konsumen organik, serta bagaimana komunikasi pemasaran yang berbeda memengaruhi keputusan pembelian.
AI kemudian dapat membantu perusahaan mengolah informasi tersebut menjadi insight.
Dengan demikian:
Technology is the enabler, but human value remains the purpose.
Marketing 6.0: The Immersive Future
Perkembangan pemasaran kemudian bergerak menuju pengalaman yang semakin immersive.
Marketing 6.0 yang dikembangkan Kotler, Kartajaya, dan Setiawan berbicara mengenai bagaimana teknologi memungkinkan perusahaan menciptakan pengalaman yang menggabungkan dunia fisik dan digital.
Konsep seperti phygital experience, immersive experience, virtual reality, augmented reality, metaverse, dan multisensory experience menjadi bagian dari perkembangan ini.
Konsumen tidak hanya ingin membeli sebuah produk.
Mereka juga ingin mendapatkan pengalaman.
Dalam konteks produk agribisnis, misalnya, sebuah brand dapat menciptakan pengalaman yang memungkinkan konsumen mengetahui perjalanan produk dari bahan baku pertanian, proses fermentasi, produksi, hingga menjadi makanan yang mereka konsumsi.
Konsumen dapat datang langsung ke fasilitas produksi, mengikuti Agribisnis Experience, mendapatkan edukasi mengenai proses pembuatan produk, kemudian melanjutkan pengalaman tersebut melalui konten digital.
Produk yang sebelumnya hanya berada di rak supermarket berubah menjadi sebuah story dan experience.
Dari Produk Menuju Ekosistem
Jika Marketing 1.0 sampai Marketing 6.0 dilihat sebagai sebuah perjalanan, kita dapat melihat perubahan orientasinya:
Marketing 1.0
Product
↓
Marketing 2.0
Customer
↓
Marketing 3.0
Human & Values
↓
Marketing 4.0
Digital & Connectivity
↓
Marketing 5.0
Technology for Humanity
↓
Marketing 6.0
Immersive Experience
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pemasaran semakin berkembang dari sekadar aktivitas menjual produk menjadi aktivitas menciptakan value dan experience.
Namun ada satu hal yang tetap penting.
Teknologi boleh berubah. Platform boleh berubah. Cara konsumen membeli juga dapat berubah.
Tetapi pertanyaan fundamental dalam pemasaran tetap sama:
Value apa yang kita ciptakan untuk konsumen?
Apa Artinya bagi Pelaku UMKM?
Bagi pelaku UMKM, memahami evolusi marketing bukan berarti harus langsung menggunakan semua teknologi terbaru.
Tidak semua bisnis membutuhkan metaverse, AI yang kompleks, atau teknologi immersive.
Yang lebih penting adalah memahami di mana posisi bisnis kita saat ini dan bagaimana meningkatkan value secara bertahap.
UMKM dapat memulainya dari hal sederhana:
1. Produk yang baik
Pastikan produk memiliki kualitas dan konsistensi.
2. Memahami konsumen
Kenali siapa yang membeli dan mengapa mereka membeli.
3. Membangun nilai
Jangan hanya menjual produk, tetapi komunikasikan nilai yang relevan bagi konsumen.
4. Memanfaatkan digital
Gunakan media sosial dan platform digital untuk membangun hubungan.
5. Memanfaatkan data dan teknologi
Gunakan data untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
6. Menciptakan pengalaman
Berikan alasan bagi konsumen untuk mengingat dan menceritakan pengalaman mereka.
Dengan cara tersebut, transformasi marketing tidak harus dimulai dari teknologi yang mahal.
Transformasi dapat dimulai dari cara berpikir.
Marketing Bukan Sekadar Menjual
Pada akhirnya, perjalanan Marketing 1.0 sampai 6.0 menunjukkan perubahan cara perusahaan memandang pasar.
Dari:
“Saya punya produk, siapa yang mau membeli?”
menjadi:
“Apa yang dibutuhkan konsumen?”
Kemudian:
“Nilai apa yang dapat saya berikan?”
Lalu:
“Bagaimana saya membangun hubungan melalui teknologi?”
Hingga:
“Bagaimana saya menciptakan pengalaman yang bermakna?”
Inilah yang membuat marketing terus berkembang.
Marketing bukan sekadar tentang bagaimana menjual lebih banyak produk.
Marketing adalah tentang bagaimana menciptakan, mengomunikasikan, dan memberikan value kepada manusia dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dan dalam konteks bisnis masa depan, perusahaan yang mampu menggabungkan produk, manusia, nilai, teknologi, dan pengalaman akan memiliki lebih banyak ruang untuk menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumennya.
Bela Putra Perdana
Komentar
Posting Komentar