Langsung ke konten utama

Makna di balik fenomena #10yearschallenge

Hi Bels



Beberapa waktu lalu media sosial sempat dihebohkan dengan tren tanda pagar (tagar) #10 years challenge. Tren ini terinspirasi oleh fitur Facebook yang kerap menampilkan foto-foto atau status lawas di lini masa penggunanya. Melihat betapa foto-foto lama itu menunjukkan perbedaan dengan kondisi sekarang, para pengguna Facebook mulai mengunggah kembali foto lama dan terkini sebagai perbandingan.

10 years challenge via Instagram
Dianggap seru, banyak netizen di dunia mulai mengikuti tantangan ini. Tren ini tak lagi hanya beredar di Facebook, para pengguna internet juga mengunggah foto-foto dua zaman itu di Instagram dan Twitter.


Perbedaan penampilan selang beberapa tahun via Instagram
Pada awalnya tantangan ini membubuhkan tanda pagar (tagar) #HowHardDidAgingHitYou untuk mengingatkan betapa besar perubahan fisik termakan oleh usia. Sebelum akhirnya tantangan ini berubah menjadi tanda pagar (tagar) #10yearschallenge. Lantas pernahkah kamu berpikir kenapa harus 10 years?

Ini dia yang akan kita bahas pada bahasan kali ini. Seperti biasa blog ini hanya akan berisi hal-hal positif dan informatif, dan bahasan yang saya pilih pada kesempatan kali ini adalah tentang fenomena 10 tahun momen penting pada fase hidup manusia.

Sama seperti tanda pagar (tagar) #10yearschallenge yang sempat populer di media sosial, ternyata kelangsungan hidup manusia juga punya siklus 10 tahunan loh. Seperti pepatah bangsa Jepang berkata "sesuatu yang hebat saat ini, pasti telah dimulai dengan baik 10 tahun yang lalu".

Nah apa aja sih momen penting yang terjadi dalam siklus 10 tahun hidup manusia? Berikut penjelasan guru marketing favorit saya Hermawan Kartajaya seorang founder and Chairman MarcPlus, Inc.

Kids on the block (0-10 tahun)
Semua dimulai saat kita lahir sampai dengan berumur 10 tahun. Tentu kita tahu pada masa-masa seperti ini, seorang anak sedang giat-giatnya mengeksplorasi dunia. Mengenal bahasa, bentuk, bau, warna, dan tentu keluarga (atau kerabat) mereka sendiri.

Balita via republika.co.id

Young, Wild, and Free (10-20 tahun)
Setelah melewati masa kanak-kanak, kita pun beranjak pada masa remaja, masa di mana kita mengalami momen-momen yang sangat bergejolak, entah dari dalam diri ataupun karna pengaruh lingkungan sosial kita. Kebanyakan remaja pun tidak mengenal rasa takut untuk mencoba sesuatu, tidak segan untuk mengenal apapun yang baru. Karna itu pula, banyak remaja yang seakan-akan menjadi "liar" pada usia ini.

Remaja via dictio

Twenty Something (20-30 tahun)
Pada dekade ketiga dalam hidup, kita telah beranjak menjadi sosok dewasa muda. Pada masa ini, banyak di antara kita yang telah menyelesaikan studi dan mulai meniti karir ataupun memulai usaha. Pada saat ini pula kita mulai menghadapi dunia yang sebenarnya, terutama karena kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar.


Sahabat berbagi via epicentrum.id

Terrific Thirties (30-40 tahun)
Pada rentang usia ini, banyak orang yang mulai memperhatikan kestabilan dalam hidup. Pada tahap ini, kita mulai merefleksikan kehidupan yang telah dijalani selama ini, melihat lagi pekerjaan yang ditekuni, dan mulai memandang jauh ke masa depan kehidupan.

Tahun ke 30 via liputan6

Fantastic Forties (40-50 tahun)
Pada masa ini, banyak di antara kita yang mulai menyadari bahwa dirinya sudah tidak muda lagi. Banyak di antara kita yang telah mengalami manis pahitnya kehidupan dan mulai memandang ke depan. Kita mulai sadar untuk melakukan berbagai hal yang membuat lebih bahagia dalam menjalani hidup.

Sehat di umur 40 via kabarsehatonline

Lebih lanjut Hermawan Kartajaya juga menjelaskan 10 tahun fase berikutnya yaitu dia menamakan in the new 40 untuk usia (50-60 tahun), super sweet sixty untuk usia (60-70 tahun), retire without regrets untuk usia (70-80 tahun), dan englightened at eighty (80+tahun).

Bukan bermaksud mempetak-petakkan manusia berdasarkan usia, terlebih kondisi tersebut jelas bergantung berdasarkan kultur dan kebiasaan yang berbeda di setiap daerah. Namun pengelompokkan usia tersebut di buat berdasarkan pengalaman Hermawan Kartajaya yang saat ini baru saja memasuki usia 70 tahun. Pakar marketing yang sempat beberapa kali menulis buku bersama Philip Kotler tersebut menumpahkan pengalamannya di buku terbarunya yaitu citizen 4.0.

Lantas ada di fase manakah kamu sekarang berada? Dan bagaimana perkembangan 10 tahun yang telah kamu lalui?

Kalau saya sendiri saat ini sedang berada di fase twenty something. Kalau menelisik di mana saya berada 10 tahun yang lalu, saya berada bersama teman-teman luar biasa di masa sekolah.
Foto bersama calon paskibraka 2009 Bogor via dokumen pribadi

Gambar ini di ambil tepat 10 tahun yang lalu di taman sempur Bogor. Saat itu saya bersama 37 teman lainnya dari berbagai sekolah di kota Bogor sedang berlatih setiap harinya guna mempersiapkan diri untuk acara pengibaran bendera merah putih di kota Bogor. Dengan badan terbakar, kepala botak, dan sering mendapatkan dispensasi dari sekolah untuk latihan bersama teman-teman inilah kondisi 10 tahun lalu yang saya lalui.

Begitulah kehidupan saya 10 tahun yang lalu, sesuatu yang sedikit banyak membentuk kepribadian saya saat ini.  Namun yang ingin saya garis bawahi dari pembahasan kali ini adalah apakah sepanjang perjalanan 10 tahun itu kita tidak pernah melakukan kesalahan?

Dalam usia saat ini saya sedang berada pada dua fase kehidupan. Pertama, saya baru saja melewati fase young, wild, and free yaitu saat saya melewati fase (10-20 tahun). Fase ini terkenal sebagai fase pencarian jati diri, maka tidak jarang banyak remaja mencoba banyak hal demi mendapatkan bentuk terbaik dalam dirinya. Tentu dalam mencoba banyak hal tersebut kita akan merasakan kegagalan dalam mencoba, salah memilih, dan salah dalam bertindak. Kehidupan remaja ini sedikit banyak tercermin dalam lagu teenage dream karya Katy Perry dibawah ini.

Fase kedua, yang harus masih saya lewati adalah fase twenty something (20-30 tahun). Menurut Hermawan Kartajaya salah satu isu yang sering menjadi sangat penting pada usia ini adalah pilihan pasangan hidup. Banyak diantara kita yang sudah tersadar dan mulai membayangkan kehidupan pernikahan. Lantas apakah dalam memilih pasangan hidup tersebut kita tidak pernah salah? Karena itu, banyak di antara kita pun yang mengalami kebingungan.

Apa yang ingin Hermawan Kartajaya sampaikan adalah setiap fase kehidupan pasti punya tantangannya sendiri. Wajar kalau dalam perjalanannya kita melakukan berbagai kesalahan, tapi jangan jadikan kesalahan itu sebagai hasil final, ya. Semuanya masih bisa kita perbaiki di fase berikutnya, asalkan kita tetap memperbaiki diri.

Bagaimana dengan kamu? Apakah sudah kamu petik semua buah perjuangan yang kamu tanam dari sepuluh tahun yang lalu?

Semoga kita bisa memulai sesuatu yang bermanfaat saat ini, yang tentunya bisa kita petik hasilnya 10 tahun kedepan, ya!

Salam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strategi Agriyaponik untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, dan meningkatnya kebutuhan pangan global, sektor pertanian dituntut untuk terus berinovasi. Sistem pertanian konvensional yang bergantung pada penggunaan air besar, pupuk kimia, dan lahan luas mulai menghadapi berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pertanian yang lebih efisien, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu konsep yang mulai berkembang dalam dunia agribisnis modern adalah agriyaponik . Sistem ini hadir sebagai solusi pertanian terintegrasi yang mengombinasikan budidaya tanaman, perikanan, pengelolaan nutrisi organik, serta pendekatan kewirausahaan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Apa Itu Agriyaponik? Agriyaponik merupakan pengembangan dari sistem akuaponik yang tidak hanya berfokus pada integrasi ikan dan tanaman, tetapi juga memasukkan aspek agribisnis, inovasi, sustainability, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam sistem ini, limbah dari budidaya ...

Tempe, Ketahanan Pangan, dan Masa Depan Kedelai Indonesia

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tempe mungkin terlihat sederhana. Ia hadir di meja makan sehari-hari, dijual di pasar tradisional, warung kecil, hingga restoran modern. Namun di balik kesederhanaannya, tempe menyimpan cerita besar tentang pangan, ekonomi rakyat, dan masa depan Indonesia. Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, hingga ketergantungan impor bahan pangan, tempe justru menjadi salah satu simbol ketahanan pangan lokal yang paling nyata. Tempe bukan hanya makanan murah dan bergizi, tetapi juga sumber penghidupan jutaan masyarakat Indonesia. Pertanyaannya: apakah kita sudah melihat tempe sebagai bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional? Krisis Pangan dan Ketergantungan Impor Hari ini dunia sedang menghadapi tantangan pangan yang semakin kompleks. Pandemi COVID-19, konflik geopolitik, kenaikan harga pangan dunia, dan perubahan iklim membuat banyak negara mulai khawatir terhadap keamanan pangannya sendiri. Indonesia pun menghadapi tantangan...

Village-Based Entrepreneurial Agribusiness Institution Model untuk Masa Depan Pertanian Desa Indonesia

Di tengah tantangan perubahan iklim, urbanisasi, krisis pangan, dan menurunnya minat generasi muda terhadap pertanian, desa tidak bisa lagi hanya diposisikan sebagai “tempat produksi pangan”. Desa harus berubah menjadi pusat inovasi, kewirausahaan, dan pembangunan ekonomi berbasis agribisnis. Inilah mengapa konsep Village-Based Entrepreneurial Agribusiness Institution Model menjadi semakin relevan. Model ini menawarkan pendekatan baru dalam pembangunan pertanian desa: bukan sekadar meningkatkan hasil panen, tetapi membangun institusi agribisnis desa yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan. Apa Itu Village-Based Entrepreneurial Agribusiness Institution? Secara sederhana, konsep ini adalah: institusi agribisnis berbasis desa yang mengintegrasikan kewirausahaan, inovasi, teknologi, edukasi, dan ketahanan pangan dalam satu ekosistem pembangunan desa. Dalam model ini, pertanian tidak hanya dilihat sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai: pusat ekonomi desa, pusat pembelaj...