Langsung ke konten utama

Postingan

Copas inspiratif: Menyegerakan Shalat

Hallo Bels Pagi tadi dapet bc di group Whatsapp kantor. Isinya lumayan inspiratif sekaligus teguran untuk kami. Entah siapa yang pertama kali menulis ini, tentu kami yakin beliau tidak keberatan tulisannya  direpost di blog ini. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, selamat membaca! Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Saya ada cerita tentang sahabat saya yang beda profesi. Dia selalu menjaga sholat diawal waktu. Apa yang terjadi? Dengan menjaga sholat wajib di awal waktu ternyata dia mendapatkan keberkahan luar biasa yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Sahabat saya yang satu ini, profesi adalah sopir angkot. Setiap hari dia menyupir angkot dengan sistem setoran ke majikan. Setor karena angkotnya punya orang lain. Nah suatu hari, majikannya bangkrut. Karena semakin mahalnya harga bensin. Akhirnya sahabat saya ini katakanlah Udin, dia jadi tidak punya mata pencaharian. Karena angkot majikannya sudah dijual. Karena Udin bukan tipe orang yang gampang putus asa, akhirnya dia m...

Akan menginjak usia 24? Hentikan kebiasaan ini segera !

Hallo Bels Usia 24 adalah salah satu usia yang menurut kebanyakan orang cukup sulit untuk dilewati. Terutama karena usia ini adalah usia peralihan dari masa ABG yang labil, beralih pada masa dewasa yang sudah mulai dituntut tanggung jawab. Pada masa kalian yang berada diusia ini mayoritas baru lulus kuliah atau mungkin sudah  meniti karir lantas ingin beralih kepekerjaan yang lain. Diusia ini juga adalah saat-saat teman kalian yang satu angkatan sudah mulai berlomba-lomba mengirim kartu undangan pernikahan, sedangkan kalian masih dibingungkan memilih prioritas pilihan antara lanjut sekolah lagi, mengumpulkan uang untuk nikah, atau pilih jalan-jalan saja mencari pengalaman diluar. Agar kamu yang akan menginjak usia 24 dapat antisipasi, ataupun kamu yang sudah lewat masa itu namun masih bertanya-tanya kenapa hati kok masih resah. Mungkin ada hal-hal yang belum tegas kamu tinggalkan pada saat kamu menginjak usia 24. Berikut adalah tips agar tidak galau saat menginjak maupun setel...

Aksi Kebaikan Tak Terduga

Salah seorang biksu sahabat saya, Ajahn Sumedho , pernah menceritakan kepada saya bahwa suatu pagi ketika ia melihat ke luar jendela, di jalan kota Inggris yang kelabu dan dirundung hujan rintik-rintik, Ia melihat seorang gelandangan yang duduk meringkuk di depan pintu sebuah rumah. Para gelandangan pada zaman itu biasanya menjaga kehangatan tubuh dengan menenggak minuman keras murahan, yang kadang semacam minuman oplosan bermutu sangat rendah, yang bisa membahayakan kesehatan dan membunuh mereka. Saya sangat ingat gelandangan ini sejak saya muda, dan bau mereka begitu busuk karena jarang mandi dan bau alkohol mereka begitu buruknya hingga menempel pada kita. Nah, Ajahn Sumedho melihat gelandangan ini meringkuk di depan pintu, berupaya menghindari hujan dan dingin. Kemudian dari arah lain datang seorang pria parlente Inggris, berpakaian seperti pengusaha, memakai topi, jas yang bagus dan rapih, serta memegang payung. Persis seperti stereotip pria Inggris zaman dahulu ketika hendak ...

Critical Eleven

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat-tiga menit setelah take off  dan delapan menit sebelum landing - karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger . In a away, it's kinda the same with meeting people, Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah-delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah menjadi perpisahan. -Critical Eleven, Ika Natassa-

Deep Understanding

Salah satu teka-teki yang masih saya ingin tahu jawabannya sepanjang 25 tahun lebih menjadi pendidik adalah mengapa anak-anak kita kesulitan mengungkapkan isi pikirannya. Maksud saya, kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepat-cepat selesai. Selain tidak argumentatif, terasa miskin dalam konsep. Di Harvard, Michael Porter, guru besar ilmu manajemen terkemuka yang menularkan metode pengajaran partisipatif, pernah memberi tahu resepnya. "Ajukan cold call, tunjuk seseorang secara mendadak, lalu gali perlahan-lahan. Mereka mungking kurang siap, tetapi buatlah sebersahabat mungkin agar mereka nyaman berbicara". Saya pun menerapkannya dan ternyata hanya berhasil pada tingkat pendidikan S-2 dan S-3. Pada tingkat S-1, saya butuh waktu banyak sekali untuk menggali dan mengeluarkan isi pikiran mahasiswa saya. Kalau dikejar lebih jauh, mereka menjawab seragam: " Ya, Gitu deh!". Kalau sudah mentok, keluarlah jargon asyiknya:" Au ah, gelaap....

Gara-gara lubang di jubah

Ada kisah mengenai biksuni yang tinggal di Sri Langka. Ia adalah biarawati yang sangat bajik, tinggal di gua, sangat sederhana, dan tiap pagi pergi menerima derma makanan. Ia nyaris tak punya apa-apa. Suatu pagi, ia bangun pagi dan melihat seekor tikus telah menggigit dan melubangi jubahnya. Maka ia berpikir, "Aku akan meminta kain rombeng dan benang untuk menambal lubang ini". Jadi ketika ia menerima derma makanan, ia meminta kepada seorang penyantunnya,"Bolehkah saya meminta secarik kain rombeng dan benang untuk menambal lubang di jubah saya? Tikus menggigitnya hingga berlubang". Ia menambal lubang itu, namun tikus terus melubangi jubahnya. Maka biksuni ini berpikir, "Buang-buang waktu saja selalu meminta benang dan rombeng untuk menambal jubahku. Aku tahu apa yang benar-benar kubutuhkan: Kucing! Kucing bisa mengusir semua tikus itu. Kucing tidak akan memakan tikus, yah.. kadang makan juga sih, tapi itu kan salah mereka". Jadi kali berikutnya ia me...

Dear God

Why do we wake up if we are to sleep? Why do we live if we are to die? Why do we meet if we are to say goodbye? Semetimes I dont get it. Most of the times I dont like it. But I know, this all teaches us something. That time doesn't rewind. And that humans will never everlastingly win. When we understand that, we then realise that nothing is more impotant than enjoying our days and make the people around us happy. So when time may no longer exist, people will remember us. And they smile when they do so. As beautiful memories -#88 love life, Diana Rikasari-