Langsung ke konten utama

Part 4; Sumber Daya Manusia: Terseret Arus Maut

April 2021, pagi ini Formosa bertugas sebagai penerima tamu di meja resepsionis. Berkebaya Bali dengan bawahan kain tenun endek yang cantik, Formosa bersiap menerima tamu. Siapa tamunya? Bisa jadi tidak ada. Namun, profesionalisme dan kehangatan kerja dengan tim manajerial yang tersisa yang membuatnya tetap kokoh berdiri. Bibirnya tersenyum, namun tidak sedemikian dengan mata dan hatinya. Dipegangnya kertas yang memuat struktur organisasi di Hotel Home yang makin banyak tercoret seiring tidak diperpanjangnya kontrak kerja karyawan.

Tercatat pada Maret 2020, Hotel Home memiliki karyawan sejumlah 72 orang. Namun, pada Maret 2021, jumlah karyawan tersisa hanyalah 13 orang. Mereka adalah Formosa, 7 jajaran manajer, dan 5 orang karyawan di engineering dan housekeeping yang terbagi dalam 2 tim dan hadir di masing-masing 3 hari dalam 1 minggu. Setelah penutupan sementara hotel pada April 2020, Formosa mengadakan town-hall meeting berstandar protokol kesehatan dengan semua karyawannya pada 18 Mei 2020. Dalam rapat tersebut, Formosa menjelaskan tentang kondisi hotel dan langkah-langkah yang akan diambil. Kebijakan pertama untuk mengurangi jam kerja karyawan dilakukan dalam periode Juni-Agustus 2020. Bila kondisi tidak membaik, manajemen hotel terpaksa mengambil kebijakan kedua yaitu tidak memperpanjang kontrak kerja karyawan yang dimulai pada periode September 2020 hingga tidak terbatas waktunya. Formosa masih ingat seberapa heningnya town-hall meeting hari itu. General Manager Sous Chef Restaurant & Bar Manager Assistant Chief Engineering Chief Accountant Assistant Sales Manager Assistant HR Manager Executive House Keeping Pastry, Chef, Cook FB Supervisor Engineering Supervisor HK Supervisor Cashier, Cost Controller Sales Executive HR Supervisor 15 Semua terhenyak, semua harus bersiap. Mulai saat itu, arus maut tsunami Covid-19 mulai menyeret sumber daya manusia Hotel Home. Dulu, tepatnya, 6 September 2020, Formosa ditemani Hadi memanggil kembali dua karyawan kontrak yang akan habis masa kerjanya pada akhir bulan tersebut. Keduanya adalah anak muda perantauan yang ulet dan pekerja keras dari Yogyakarta dan Surabaya. “Narti dan Bambang, kontrak Anda akan habis…,” belum selesai Formosa berkata, Bambang menyela, “Ibu, tidak mengapa. Kami memahami kondisi hotel. Ibu telah melakukan langkah yang terbaik. Kami siap dengan keputusan manajemen untuk tidak memperpanjang kontrak kami pada akhir bulan ini. Kami akan pulang ke rumah masing-masing dan akan mencoba membuka usaha kecil-kecilan,” tukas Bambang dengan tersenyum. Narti-pun mengangguk tanda setuju. Ingin rasanya Formosa memeluk keduanya, namun protokol kesehatan diterapkan ketat di pelayanan. “Bambang dan Narti, ada sedikit uang tali asih dari perusahaan. Terima kasih atas kerjasama kita,” ucap Formosa mencoba menegarkan keputusan. Forum itu ditutup dengan salam namashite. Dulu, di waktu yang lain, tepatnya, 8 Oktober 2020, Formosa kembali memanggil satu orang karyawan yang akan habis masa kerjanya pada akhir bulan. Kali ini, Agung menemaninya. Karyawan ini bernama Putu. Dia adalah tulang punggung keluarga sejak suaminya meninggal kecelakaan 1 tahun yang lalu. Begitu Putu memasuki ruangan, dia sudah menangis berharap tidak diputus kontraknya. Agung sebagai pimpinan Sumber Daya Manusia (SDM) berusaha menenangkannya. Formosa menyampaikan keputusan untuk tetap tidak memperpanjang kontrak kerja Putu. Hanya, karena Putu berdomisili di Badung, Formosa berjanji untuk memanggil Putu agar bekerja casual bila ada tamu kelompok yang tinggal di hotel dan memerlukan pelayanan tambahan. Putu menyetujuinya. Sedemikian upaya yang dilakukan Formosa dan tim manajerial untuk mempersiapkan SDM-nya agar bersiap dalam seretan arus tsunami Covid-19. Hingga akhirnya pada hari ini di 16 April 2021, Formosa menyadari bahwa hanya 13 orang yang tersisa. Itu pun tidak semua dapat dipekerjakan setiap hari. Masing-masing orang bekerja 10 hari dalam satu bulan, tidak lebih karena hotel tidak memiliki kemampuan untuk membiayai gaji bila melebihi ketersediaan waktu ini. Dengan demikian, gaji yang diterima bagi yang bertahan tinggal 30% dari gaji semulanya. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya uang tips dari para tamu yang memang tidak hadir dan tinggal di hotel. Formosa yang semula memanajemen hotelnya dari kantornya yang nyaman di salah satu sudut hotel, sekarang harus mau turun menjadi petugas penerima tamu. Yuyun sebagai sous chef yang biasanya menari di dapur untuk mempersiapkan hidangan yang memanjakan lidah, sekarang harus turut dituntut terampil sebagai kasir yang menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC) untuk melayani keuangan tamu yang long-stay di hotel. Made yang dulu mengkoordinasi manajemen engineering hotel, sekarang harus mau mengganti lampu bila ada salah satu lampu hotel yang padam. Agung yang biasanya tampil maskulin sebagai pimpinan manajemen SDM, sekarang harus turut siap menjadi petugas parkir. Meskipun demikian, Formosa tertegun dengan kemauan dan dukungan 12 orang SDM tersisanya ini. Mereka menjadi semakin akrab karena bersama menyapu hotel setiap pagi sambil saling menanyakan kabar keluarga. Mereka hadir pada saat suka dan duka, Formosa sangat menghargainya. Penghujung April 2021, Formosa ditemani dengan Hadi menghadiri rapat dengan pemilik hotel, Dharmawan. Sebagai General Manager di Hotel Home, Formosa memiliki tiga level pimpinan di atasnya. Tepat di atasnya adalah Direksi Perseroan Terbatas (PT), lalu dilanjutkan Komisaris, dan Pemilik. Setiap akhir bulan, Formosa harus melaporkan perkembangan dan strategi hotel kepada Direktur PT. Laporan tersebut meliputi profit and lost report, pandangan bisnis ke depan, dan monthly income statement. Hadi telah mempersiapkan laporan keuangan hotel per akhir 2020 (Peraga 4). Namun, sejak tsunami Covid-19 terus mengancam hotel, Dharmawan sebagai pemilik terus menghadiri rapat akhir bulan ini.

Seiring dengan makin tingginya kewaspadaan atas penyebaran Covid-19, penerapan protokol kesehatan menjadi dasar rapat akhir bulan dilaksanakan dengan media teknologi informasi. Platform zoom marak digunakan dalam masa ini, seperti halnya pelaksanaan rapat hari ini. Meskipun sama-sama memancar dari lokasi hotel, Formosa dan Hadi mengambil tempat yang berjarak namun tetap bisa saling melihat. Formosa mengikuti rapat dari resto yang terletak di samping kolam renang hotel yang airnya berwarna biru meneduhkan. Sementara Hadi mengambil posisi di lobi depan hotel sambil bersiap bila ada tamu yang hadir. Keduanya tetap bisa saling melihat namun terpisah oleh jarak sehingga memenuhi kaidah physical distancing tanpa terjerumus pada social distancing. Direktur PT membuka rapat. Formosa memaparkan laporannya, lalu dilanjutkan dengan arahan Dharmawan sebagai pemilik. Sejak April 2020, Dharmawan sebagai pemilik terus-menerus menyuntik dana untuk membiayai operasional hotel. Dia putarkan dana dari bisnis yang lain untuk menggaji karyawan Hotel Home. Namun, semua ada batasnya. Pada periode April 2021 ini, hotel memerlukan pendanaan 70-80 juta setiap bulan. Dengan kecilnya pemasukan, keperluan dana ini tentu terus menjadi beban manajemen hotel. Ultimatum diberikan oleh Dharmawan, jika hotel tidak mampu mencukupi kebutuhan keuangannya sendiri pada Mei 2021, maka Dharmawan memutuskan akan menutup Hotel Home. Formosa dan Hadi terhenyak mendengarnya. Arus tsunami Covid19 ini sedemikian kuat menggulung dan meluluhlantakkan bisnis perhotelan yang mencoba terus bertahan. Hotel Home harus bersiap menyusul nasib hotel-hotel lain yang gulung tikar lebih dahulu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do Not Be Ashamed of Your Past: Focus on Growth, Not Comparison

There is a silent burden many people carry: shame from the past. Mistakes. Poor decisions. Moments of weakness. Failures that still echo in memory. We replay them. We judge ourselves. We wonder how different life would be if we had chosen differently. But here is a truth supported both by psychology and lived human experience: Your past is a chapter — not the whole book. Shame vs. Growth Researcher BrenĂ© Brown , known for her work on vulnerability and shame, explains that shame says, “I am bad,” while guilt says, “I did something bad.” That difference is powerful. Shame attacks identity. Guilt guides correction. In her book Daring Greatly , she emphasizes that growth becomes possible when we separate our worth from our mistakes. If you believe you are your failure, you stop trying. But if you believe you simply made a mistake, you can learn. You are not your worst decision. The Past Is Data, Not Identity Psychologically, reflection is one of the strongest tools for i...

Q&A Quarter Life Crisis

Hallo Bels Apa kabar? Selamat bertemu kembali di minggu malam bermanfaat *macam penyiar radio. Semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan nama baik di nikmat umurmu saat ini. Hari ini seperti biasa kita akan bahas hal bermanfaat lainnya yang mudah-mudahan bisa membantu segala permasalahan dalam hidupmu. Kali ini kita akan membahas tentang quarter life crisis, suatu fase yang kalau saya tidak salah menghitung tahun, fase tersebut sedang dirasakan oleh generasi 90an termasuk saya. Sebetulnya apa sih quarter life crisis itu? Apakah sifat cepat marah, kehilangan jati diri, resah gelisah, dan tiba-tiba mempertanyakan keberadaan diri kita di dunia ini sebenarnya untuk apa termasuk dalam quarter life crisis? *nah loh. Ini dia yang akan dibahas dalam diskusi kita kali ini bersama ahlinya. . Seperti biasa diskusi kita ini akan ditampilkan berupa pertanyaan dan jawaban yang sudah saya rangkum dari hasil diskusi. Namun yang berbeda kali ini pertanyaan dan tanggapan dari momod atau moderator ...

Bedah buku Aroma Karsa-Dewi 'Dee' Lestari

Review novelnya Dewi 'Dee' Lestari. Judul buku: Aroma Karsa Penulis: Dewi 'Dee' Lestari Penerbit: PT. Bentang Pustaka Terbit: Cetakan pertama, Maret 2018 ISBN: 978-602-291-4631 Genre: Misteri, petualangan (Fiksi) Tebal: xiv+710 halaman; 20 cm Harga; Rp. 125.000 Pengantar dan sinopsis Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia. Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi. Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum. Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Ja...