Langsung ke konten utama

Kebahagian sejati adalah kebahagiaan yang berasal dari hal-hal sederhana

Nasihat untuk sejahtera bersama



Traditional market via unplash
Assalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakatuh

*Ketika Si  Miskin Membiayai Orang Kaya*

Hakikat perniagaan di negeri ini sering saya gambarkan dalam cerita tentang seorang pengusaha kecil yang memiliki produk, katakanlah keripik ubi. Untuk dapat masuk ke sebuah supermarket besar, produk ini harus melewati sekian uji-saring ketat, dari kualitas hingga kemasan. Akhirnya produk dia pun diterima, terpampang agak tersembunyi di salah satu sudut raknya.

Tapi sistem pembayaran keripik ubi itu adalah konsinyasi: tiga bulan dipajang baru dihitung berapa yang laku. Laporan bisa diambil sekaligus sisa barang. Lalu pembayaran tunai baru akan diterima secepat-cepatnya sebulan kemudian. Total butuh empat bulan utk menerima pembayaran.

Tapi kalau si pemilik usaha amat kecil ubi ini pada saat menyetorkan dagangannya hendak beli beras atau gula di supermarket itu, bisakah ia minta dihitung nanti dari hasil dagangannya? Tidak, ia harus membayar tunai saat itu juga.

Inilah tata ekonomi dengan sistem orang miskin membiayai orang kaya.  Pemilik usaha kecil itulah yang menopang bisnis para pemodal besar supermarket.

Maka kita selalu bahagia pergi ke pasar tradisional, karena kita akan menemukan nilai-nilai yang amat mahal.  Saking mahalnya, 500 orang terkaya di dunia versi Forbes bersekutu pun takkan sanggup membelinya.

Tempo hari, terlihat di Pasar Prawirotaman Yogyakarta, ada seorang ibu penjual bawang merah dan putih yang asyik mengupasi sebagian dagangan yang sudah keriput kulitnya. Tak banyak yang disandingnya, hanya setampah kecil saja.

Lalu seorang lelaki yang lebih muda, sambil tersenyum ke sana ke mari menjajakan pisang satu lirang saja, yang dilihat keadaannya memang hanya akan bagus kalau dimakan hari ini segera. Tidak untuk besok.

Sambil tetap asyik dengan pisaunya, sang ibu mendongak, lalu berkata dengan tawa ringan yang memamerkan giginya, "Tolong pisangnya gantungkan di cantelan motorku itu ya Dik. Ini uangnya ambil ke sini."

"Ya Mbak, lima ribu saja buat njenengan."

Maka ketika si Mas usai menaruh pisang itu, sang ibu menyumpalkan tiga uang lima ribuan ke tas plastik si Mas yang berisi jajanan ketika dia mendekat.

Semula lelaki itu tak menyadarinya, tapi setelah berjalan beberapa langkah dia kembali. "Weh, kebanyakan Mbak", katanya.

"Tidak apa-apa, buat jajan anakmu lho Dik. Lagipula pisang segini banyak ya ndak mungkin Rp 5000 to."

"Ndak, mmang segitu harganya Mbak. Jajan utk anak juga sudah ada kok ini."

Lalu uang itu dikembalikannya. Tak mau kalah, si ibu segera menyusul si mas yang berlari. Ia memasukkan lagi uang kelebihan Rp10.000 itu ke tas plastiknya. Si mas tersenyum geleng-geleng kepala. Lalu dengan penuh kesopanan, dia pamit pergi.

Siang hari ketika si ibu hendak pulang, seorang pedagang bakso menghampirinya. "Ini Mbak, baksonya."

"Lho saya tidak pesan itu?" kata si ibu.

"Lha tadi Mase penjual pisang yang memesankan itu. Terus dia bilang diracik dan ngasihkannya nanti saja kalau njenengan mau pulang."

"Ooo Allah... Rezeki,  sembah nuwun Gustiiii..."

Adakah engkau temukan di tempat belanjamu orang saling berebut untuk membahagiakan sesamanya seperti ini?

Ah, mungkin sesekali kau perlu pergi ke pasar yang kaulihat becek dan sumpek itu. Di sanalah ada yang tak dapat kaubeli dengan harta, tapi dapat kaurasakan mengaliri hatimu dengan sejuta haru dan makna.

✍🏻 Ustadz Salim A Fillah


Salam bertumbuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi: Love your self (You can't love someone until you learn to love yourself)

Hallo Bels Apa kabar? semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan nama baik. Bahasan kali ini sedikit berbeda, karna kita akan membahas mencintai diri sendiri melalui tanya jawab yang terjadi dalam diskusi sebuah grup whatsapp. Sebuah forum independen yang beranggotakan pemuda-pemudi dari berbagai aktivitas, universitas maupun lembaga kepemudaan dengan cita-cita bersama membangun mental diri dengan semangat kontribusi bersama. Forum itu bernama Love your self Indonesia. Dengan visi mewujudkan generasi muda Indonesia yang memiliki kualitas hidup dan kesehatan mental yang baik. Mereka mempunyai misi diantaranya mengadakan kegiatan-kegiatan terkait dunia komunikasi psikolog di masyarakat, mengadakan pelatihan sebagai sarana terapi untuk diri sendiri, menjadi jembatan bagi masyarakat yang peduli terkait mental health dan penderita gangguan kesehatan mental. ** Dalam diskusi kali ini mereka menghadirkan seorang narasumber atau yang biasa disebut Bomber seorang psikolog klinis dan jug...

Bedah buku Aroma Karsa-Dewi 'Dee' Lestari

Review novelnya Dewi 'Dee' Lestari. Judul buku: Aroma Karsa Penulis: Dewi 'Dee' Lestari Penerbit: PT. Bentang Pustaka Terbit: Cetakan pertama, Maret 2018 ISBN: 978-602-291-4631 Genre: Misteri, petualangan (Fiksi) Tebal: xiv+710 halaman; 20 cm Harga; Rp. 125.000 Pengantar dan sinopsis Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia. Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi. Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum. Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Ja...

Entrepreneurial Marketing: What I Learned from Building a Business and Teaching in the Classroom

 I didn’t first learn marketing from textbooks. I learned it from the field, from small failures, limited resources, and decisions made with more courage than certainty. Only later did the term Entrepreneurial Marketing begin to make sense, because it perfectly described what I had been practicing all along. As both an entrepreneur and a lecturer, I live in two worlds that are often seen as separate: practice and theory. In reality, they constantly inform and strengthen each other. Building a Business Taught Me What Marketing Really Means When I started my business journey, I didn’t have a large marketing budget or a dedicated team. What I had was a product, belief, and the determination to survive. Every marketing decision began with a simple question: what can I do today with the resources I already have? Many strategies were not born from complex market research, but from direct conversations with customers, feedback from partners, and real-time market responses. I experime...