Langsung ke konten utama

Potensi Diri

Diskusi LYS tentang memahami potensi diri.


Mengenali diri via unplash
“Hidup bukan tentang seberapa lama kamu mencapai keberhasilan tapi tentang bagaimana kekuatan bisa merubah ketidak mungkinan menjadi sebuah kemungkinan. Kenali potensi diri maka semua akan jadi lebih mudah.”-Mak Dewi-

Apabila kita melihat tokoh cartoon spongebob, mungkin kita sepakat bahwa Dia adalah sosok yang ceria, supel, disenangi banyak orang, colourful, dan ekspresif dalam beremosi. Ia sangat menikmati pekerjaannya (satu hal yang khas dari spongebob adalah Dia sangat menyukai pekerjaannya sebagai koki, bahkan selain dari pekerjaan itu Dia tidak mau mengerjakannya). Yang kita tahu bahwa spongebob sangat berminat dengan kegiatan memasak, Ia sangat senang membuat krabby patty. Dalam film itu pun diceritakan krabby patty buatan spongebob dinilai enak, beda halnya semisal krabby patty itu dibuat oleh temannya yaitu Patrick atau mr. Krab. 

Cerita soal tokoh spongebob yang sangat ceria dan sangat menyukai pekerjaannya ini dapat dinilai cocok apabila kita berbicara soal potensi diri. Spongebob dinilai mampu mengenali potensi yang ada pada dirinya. Dia dapat menikmati pekerjaannya, karena Ia dapat menyeimbangkan antara minat, bakat, dan kepribadian yang Ia miliki. Serta Ia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat, dan kepribadiannya tersebut.

Mengenali potensi diri sejak dini adalah suatu hal yang penting, karena dengan mengenali sejak awal potensi diri kita maka artinya kita dapat memaksimalkan potensi tersebut. Potensi (menurut KBBI) adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Potensi diri merupakan kemampuan serta kekuatan dalam diri seseorang, baik yang belum terwujud maupun telah terwujud. 

Seseorang yang dapat mengenali potensi diri, cenderung akan menikmati kegiatan atau pekerjaan yang sedang Dia lakukan. Contohnya seorang pelajar yang mampu mengenali potensi diri sejak awal, Dia tidak akan bingung tentang program studi apa yang akan Ia ambil kedepannya serta Dia akan menikmati kegiatan yang sedang dilakukannya. Potensi diri juga harus sesuai dengan minat dan bakat agar dapat dimaksimalkan secara baik. 

Minat adalah dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu obyek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan serta mendatangkan kepuasan. Minat adalah aspek penting dari motivasi dimana minat mempengaruhi perhatian, cara belajar, cara berpikir, dan semangat berprestasi. 

Hubungan antara minat dan hasil kerja yaitu minat yang lebih tinggi pada kegiatan tertentu berdampak pada proses dan hasil belajar/kerja yang lebih baik (Lepper dan Malone, 1987).
Keuntungan memiliki minat diantaranya dapat meningkatkan motivasi, tidak terpaksa melakukan pekerjaan, lebih semangat, semakin ingin tahu, bekerja lebih optimal, dan meningkatkan prestasi. 

Sebaliknya, terdapat efek yang terjadi apabila kita mengerjakan sesuatu yang bukan menjadi minat kita yaitu; timbulnya perasaan tidak suka atau emosi negatif pada kegiatan tsb, bermalas-malasan dalam kegiatan yang kita lakukan tsb, sering membolos, prestasi rendah, bahkan efeknya apabila kita seorang pelajar bisa saja tidak naik kelas/ lulus.

Ada terdapat 3 jenis minat yaitu minat pribadi, minat situasional, dan minat psikologis. Minat pribadi mempunyai ciri khas individu yang relatif stabil pada topik spesifik seperti tari, olahraga, ilmu pengetahuan, dsb. Contohnya apabila seseorang menyukai olahraga sedari kecil, maka sampai dewasa pun akan aktif berolahraga. Kalau seseorang menyukai matematika sedari kecil menyukai hitungan misalnya, maka dapat diperkirakan setelah dewasa pun Ia menyukai hitungan. 

Sedangkan minat situasional adalah minat yang dapat tumbuh oleh kondisi dan faktor lingkungan. Seperti keadaan ruangan kelas/kerja, media, komputer, buku dsb. Dan yang terakhir minat psikologis adalah interaksi antar minat pribadi dan situasional, dimana minat pribadi saling mempengaruhi keadaan lingkungan. Misal; Secara genetis minat pribadi kita adalah musik, orangtua pun ikut mendukung  kalau kita berkarir dengan provide les musik, membelikan alat musik untuk latihan di rumah, membolehkan kita mengikuti ekskul musik, ikut lomba, dll. Support dari orangtua ini tentu akan menaikkan minat situasional kita.

Minat dipengaruhi oleh 2 aspek; Aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berkaitan dengan perhitungan keuntungan dan kepuasan pribadi. Seperti kita menilai seberapa penting suatu hal tsb. Sedangkan aspek afektif adalah sikap yang menilai seberapa menyenangkan kegiatan terkait minat. Bagaimana emosi yang muncul pada kegiatan tsb berdasarkan pengalaman pribadi. Contoh; seseorang menyukai kegiatan merangkai bunga, emosi yang dirasakan dari kegiatan tersebut selalu positif (senang). Tetapi Dia tidak ingin menjadikan merangkai bunga sebagai profesi, karena menurutnya merangkai bunga tidak menguntungkan secara financial, Dia menjadikan kegiatan tsb sebagai hobi semata.

Minat sendiri terdapat beberapa jenisnya, berikut adalah jenis-jenis minat menurut skala RMIB.

Gambar 1. Macam minat menurut skala RMIB
Penjelasan detail minat tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2. Penjelasan bidang minat dan contoh pekerjaan
Aspek penting lainnya selain minat adalah bakat. Menurut Corsini dalam Dictionary of Psychology bakat adalah suatu kemampuan tingkat tinggi dalam aspek tertentu yang dibawa sejak lahir, seperti musik, melukis, matematika, yang dengan latihan dapat tampil sangat baik. Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda. 

Bakat dipengaruhi oleh intelegensi (cenderung genetis). Multiple Intelegence adalah kecerdasan khusus dari masing-masing individu. Bisa disebut juga sebagai bakat. Contohnya seperti anak yang berbakat dalam musik. Sekali mendengar alunan musik, Dia bisa meniru atau memainkan alat musik atau bernyanyi sesuai notasi alunannya. Berbeda halnya apabila Dia tidak berbakat, tentu Dia akan buta nada tsb. Untuk kemampuan yang sifatnya umum, dapat diukur dengan tes IQ. Akan terlihat nantinya seberapa besar potensi koginitf yang dimiliki. Semakin besar potensi kognitifnya, semakin besar pula peluang untuk dapat mempunyai bakat di berbagai bidang. 
Selain itu terdapat aspek yang juga perlu dipertimbangkan dalam memaksimalkan potensi adalah kepribadian. Kepribadian sendiri bersifat nature (Genetik: Diturunkan) dan nurture (Pengaruh Lingkungan: Diajarkan). Untuk dapat mengetahui jenis kepribadian berdasarkan tes MBTI, kita dapat mengikuti tes online di: https://www.16personalities.com/id/tipe-kepribadian. Kepribadian kita nanti akan diklasifikasikan berdasarkan skala seperti yang terlihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Skala kecenderungan

Gambar 4. Overview of MBTI
Ada beberapa cara untuk mengetahui potensi dalam diri, yaitu salah satunya dengan trial and error. Hal ini dilakukan dengan mencoba berbagai kegiatan yang dianggap menyenangkan. Kelebihannya adalah kita dapat mengeksplorasi banyak bidang, sedangkan kelemahannya hal itu membutuhkan banyak waktu.
Cara kedua mengetahui potensi diri adalah dengan mengobservasi dari lingkungan sekitar atau social learning. Kelebihan dari cara ini adalah kita dapat memiliki contoh dari orang lain sehingga tidak perlu bingung, serta kemungkinan resiko yang timbul dapat dipelajari dari lingkungan. Kekurangannya yaitu apa yang kita pelajari dari orang lain belum tentu sesuai dengan diri sendiri, dan juga apa yang kita lakukan bisa jadi hanya meniru semata.
Cara ketiga mengetahui potensi dalam diri adalah dengan diarahkan oleh Psikolog. Dengan cara ini kemampuan individu kita dapat dinilai oleh psikolog dengan melakukan pemeriksaan psikologis (psikotes), khususnya tes minat bakat. Cara ini akan menghasilkan gambaran profil potensi yang lebih komprehensif dan akurat.
Cara mengetahui bakat
Observasi kapan kita bisa berlama-lama dalam suatu kegiatan. (2) Lihat kualitas kerja dalam kegiatan tsb. (3) Evaluasi emosi ketika berkegiatan, apakah emosinya positif atau negatif, disukai/tidak. (4) Berapa lama kita mampu bertahan dengan kegiatan tsb. (5) Seberapa sering kita mengulangi kegiatan tsb.
Apabila kita kesulitan dalam mengetahui bakat dengan menggunakan cara diatas, maka kita dapat meminta bantuan orang lain dengan metode Johari Window.

Gambar 5. Metode Johari Window
Kenapa kita harus tau minat dan bakat kita? Karena bakat, minat, intelegensi perlu diketahui salah satunya untuk meramalkan keberhasilan pendidikan dan pekerjaan. Apabila kita dapat mengetahui lebih dahulu tentang potensi dalam diri kita, hal itu dapat berguna untuk memprediksi masa depan kita kelak. 

Begitupun sebaliknya, apabila kita tidak dapat mengenali minat dan bakat kita maka yang terjadi adalah keburukan yang kita dapat. Contohnya saja dapat kita lihat 40% pada tahun 2010, mahasiswa mengalami Drop Out di tahun pertama karena merasa salah jurusan (edukasi kompas.com). Berdasarkan penelitian Indonesia Career Center Network di tahun 2017, 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan. Jika salah dalam pilihan pendidikannya, remaja dapat mengalami kegagalan dalam belajar, kerugian finansial, dan juga penurunan rasa percaya diri (Kurnia et al, 2006). Ada kemungkinan juga seseorang yang salah jurusan akan salah juga dalam mendapatkan pekerjaan. 

Keuntungan pemilihan pendidikan yang tepat sesuai minat dan bakat.
Meningkatkan motivasi belajar terutama motivasi intrinsik. (2) Kualitas studi diharapkan prima. (3) Mengurangi stress dalam menghadapi pendidikan (memudahkan konsentrasi belajar). (4) Mampu menentukan skala prioritas. (5) Memiliki target yang jelas. (6) Terhindar dari ancaman putus sekolah (karena bosan atau nilai kelulusan pas-pasan).

Bagaimana kalau sudah terlanjur belajar/bekerja pada hal yang tidak sesuai minat dan bakat kita?
Hal tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan minat situasionalnya seperti dengan belajar atau bekerja sama dengan teman-teman dekat, membuat catatan yang menarik dengan stabilo berwarna, ruangan kerja dibuat senyaman mungkin, membuat media kerja senyaman mungkin, atau membuat kegiatan yang menarik di tempat belajar atau kerja.

“Hanya ada satu hal di alam semesta yang kamu dapat yakini untuk berkembang dan meningkat, dan itu adalah dirimu sendiri”-Aldous Huxley-

(15 Juni 2019, Sharse LYS)
Narasumber: Rini Setianingsih, M.Psi (Psikolog anak dan remaja).
Moderator: Uji
Notulis: Bela Putra


Salam bertumbuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Professional Marketing vs Entrepreneurial Marketing

 Selama ini kita mengenal marketing sebagai sebuah disiplin yang sangat terstruktur. Ada market research, segmentation, targeting, positioning, marketing mix, consumer behavior, marketing strategy , hingga berbagai indikator untuk mengukur keberhasilan sebuah aktivitas pemasaran. Semua dilakukan dengan data. Semua direncanakan. Semua diukur. Pendekatan inilah yang kemudian dapat kita pahami sebagai professional marketing . Namun, dunia bisnis berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Teknologi berkembang, perilaku konsumen berubah, batas antarindustri semakin kabur, dan berbagai peluang baru muncul bahkan sebelum konsumen sendiri menyadari bahwa mereka membutuhkannya. Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan menarik: Apakah marketing cukup hanya menjadi semakin profesional? Philip Kotler bersama Hermawan Kartajaya, Hooi Den Huan, dan Jacky Mussry melalui buku Entrepreneurial Marketing menawarkan perspektif yang menarik: marketing perlu bergerak beyond professionalis...

Lelaki yang Jarang Disebut, tetapi Membuat Tempe Layak Dibanggakan

Kisah seorang anak Brebes yang gagal menjadi ABRI, merantau ke Bogor, menjadi pengurus koperasi di usia 19 tahun, hingga mendirikan Rumah Tempe Indonesia Ada banyak nama yang muncul ketika kita berbicara tentang tempe Indonesia. Ada nama-nama ilmuwan, akademisi, profesor, peneliti, pengusaha, hingga generasi baru entrepreneur yang berhasil membawa tempe ke berbagai penjuru dunia. Ada yang dikenal sebagai tokoh teknologi pangan. Ada yang dikenal sebagai profesor tempe. Ada pula startup tempe dari luar negeri yang membuat dunia mulai mengenal tempe sebagai makanan fermentasi yang sehat, bernilai ekonomi, dan memiliki potensi global. Nama-nama itu tentu memiliki kontribusinya masing-masing. Tetapi di antara banyak nama tersebut, ada satu nama yang mungkin tidak terlalu sering disebut. Namanya Sukhaeri . Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Heri . Ia bukan profesor. Bukan pula seorang tokoh yang sejak muda bercita-cita menjadi “orang tempe”. Bahkan, kalau boleh jujur, tempe mungkin bu...

Marketing 1.0 sampai 6.0 Evolusi Pemikiran Philip Kotler tentang Pemasaran

Pengalaman saya menjadi pembicara di marketing festival di pekan baru dan Jogja. Ketika berbicara tentang pemasaran, nama Philip Kotler hampir selalu menjadi salah satu rujukan utama. Selama beberapa dekade, Kotler bersama Hermawan Kartajaya mengembangkan pemikiran mengenai bagaimana pemasaran terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat, teknologi, dan perilaku konsumen. Perubahan tersebut kemudian sering dijelaskan melalui konsep Marketing 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, hingga 6.0 . Menariknya, perubahan ini bukan berarti konsep sebelumnya menjadi tidak relevan. Justru, setiap tahap merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Produk tetap penting, konsumen tetap penting, nilai kemanusiaan tetap penting, dan teknologi semakin menjadi bagian yang menghubungkan semuanya. Lalu, bagaimana evolusi tersebut? Marketing 1.0: Product-Centric Marketing 1.0 merupakan fase ketika pemasaran sangat berorientasi pada produk . Pada era ini, perusahaan berfokus pada bagaimana menghasilkan produk secar...