Langsung ke konten utama

Meditasi perjalanan

Sebuah cara bermeditasi ala Calm


Traveling via unplash
Untuk menghindari stres dalam perjalanan sehari-hari, berlatihlah melakukan meditasi berbasis kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain selagi kamu berpergian. Entah naik bus atau kereta, kamu bisa segera memulai meditasi ini begitu kamu duduk.

Pertama, kumpulkan niat untuk berbelas kasih; pikirkan kebaikan-kebaikan yang bisa kamu lakukan untuk orang lain. Apapun kendaraan yang kamu tumpangi, kamu bisa memilih untuk tidak membiarkan kemacetan atau hambatan lainnya membuat kamu gelisah. Dibandingkan sibuk memikirkan kapan kamu akan tiba di tujuan, manfaatkan waktu perjalanan kamu untuk berelaksasi.

Manfaatkan bunyi klakson, dering telefon, atau bunyi-bunyi lain yang bisa kamu dengar sebagai pengingat untuk mengembalikan kamu ke masa kini. Dengan pikiran relaks, pandangilah orang-orang di sekitar kamu tanpa penilaian tertentu. Sadari dan terima fakta bahwa kamu semua memiliki satu tujuan yang sama, yaitu sampai di suatu tempat.

Jika kamu terjebak kemacetan, atau penumpang di sebelah kamu tak berhenti batuk-batuk, cobalah untuk tidak bereaksi negatif. Sebaliknya, perhatikan suasana di sekitar kamu dengan penuh kasih bagi sesama penumpang. Gunakan momen ini sebagai kesempatan untuk merasakan keterhubungan dengan orang lain.

Jika melakukan perjalanan pulang pergi harian dengan sikap penuh kasih, kamu akan merasakan perubahan bukan hanya pada perjalanan kamu, tapi juga pada seluruh hari kamu.

Michael Anton Smith-buku Calm


Salam bertumbuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Tempe Indonesia: A Hub of Innovation for Tempeh Production in Indonesia

Tempeh, a traditional Indonesian fermented soybean product, has gained international recognition as a highly nutritious and sustainable source of plant-based protein. As the demand for tempeh continues to grow both domestically and globally, Rumah Tempe Indonesia (RTI) has emerged as a leading center for innovation, education, and sustainable production practices in the tempeh industry. What is Rumah Tempe Indonesia? Located in Bogor, West Java, Rumah Tempe Indonesia was established in 2012 by the Indonesian cooperative tempeh and tahu. ( Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia ) in collaboration with government and academic institutions. The facility was created in response to the need for a standardized, hygienic, and environmentally friendly model for tempeh production. RTI not only functions as a production center but also as a training facility, research hub, and community empowerment program. Innovation in Production Techniques One of the primary goals of RTI is to modernize...

Rumah Tempe Indonesia: A Local Answer to Food Security Challenges in Indonesia

As the world faces growing concerns over food security, Indonesia—a country rich in agricultural resources and traditional knowledge—is seeking sustainable solutions that not only address hunger, but also support health, the economy, and the environment. One such solution lies in a humble, centuries-old food: tempeh . And at the heart of tempeh innovation is Rumah Tempe Indonesia (RTI) . A Center for Sustainable Innovation Located in Bogor, West Java, Rumah Tempe Indonesia was established in 2012 as a modern facility dedicated to producing high-quality tempeh using safe, hygienic, and sustainable practices. More than just a production center, RTI functions as a hub for research, education, and community empowerment, aiming to elevate tempeh from a traditional food to a strategic asset in achieving national food resilience. Why Tempeh? A Superfood for the People Tempeh, made from fermented soybeans, is a highly nutritious and affordable protein source. It contains all essential amin...

Aksi Kebaikan Tak Terduga

Salah seorang biksu sahabat saya, Ajahn Sumedho , pernah menceritakan kepada saya bahwa suatu pagi ketika ia melihat ke luar jendela, di jalan kota Inggris yang kelabu dan dirundung hujan rintik-rintik, Ia melihat seorang gelandangan yang duduk meringkuk di depan pintu sebuah rumah. Para gelandangan pada zaman itu biasanya menjaga kehangatan tubuh dengan menenggak minuman keras murahan, yang kadang semacam minuman oplosan bermutu sangat rendah, yang bisa membahayakan kesehatan dan membunuh mereka. Saya sangat ingat gelandangan ini sejak saya muda, dan bau mereka begitu busuk karena jarang mandi dan bau alkohol mereka begitu buruknya hingga menempel pada kita. Nah, Ajahn Sumedho melihat gelandangan ini meringkuk di depan pintu, berupaya menghindari hujan dan dingin. Kemudian dari arah lain datang seorang pria parlente Inggris, berpakaian seperti pengusaha, memakai topi, jas yang bagus dan rapih, serta memegang payung. Persis seperti stereotip pria Inggris zaman dahulu ketika hendak ...