Langsung ke konten utama

Bedah buku sebuah seni untuk bersikap bodo amat-Mark Manson

Review buku nyelenehnya Mark Manson.



Buku Mark Manson via google
Sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik. Sungguh judul buku ini sangat nyeleneh dan bikin penasaran. Ditambah predikat buku ini sebagai buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail membuat mata penasaran untuk menjelajahi lebih jauh isi dari buku ini.

Dan ternyata...Buku ini memang asyik banget dibaca, ternyata bodo amat itu artinya adalah nggak takut menghadapi masalah. Disitulah petualangan membaca saya dimulai pada buku ini.

Judul buku: Sebuah seni untuk bersikap bodo amat.
Penulis: Mark Manson
Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Terbit: Cetakan pertama, Februari 2018
ISBN: 978-602-452-698-6
Genre: Self Improvement (Non Fiksi)
Tebal: viii+246 Halaman
Harga: Rp. 67.000

Pengantar
Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, bukan amat bodoh. Judul yang sangat mudah didengar dan provokatif. Baru dicetak dalam waktu setengah tahun, sudah dicetak ulang 5 kali. Jadi, tiap bulan ada cetak baru. Membuat saya jadi penasaran apasih isi bukunya. Apa sih yang dimaksud dengan seni bodo amat.

Ternyata bodo amat itu adalah perasaan nyaman kalau menjadi berbeda. Karna memang pada dasarnya setiap orang berbeda dan tidak semua orang istimewa.

Saya cari lagi istilah yang lain. Ternyata bodo amat itu adalah nggak takut menghadapi masalah. Jadi setiap kali ada masalah dia hadapi dan diselesaikan, supaya tidak menjadi bertumpuk.

Nah, menurut Mark si Penulis buku ini; masalah adalah suatu variabel yang konstan dalam kehidupan kita. Misalnya, kita mau hidup sehat jadi kita putuskan untuk ngegym. Masalahnya timbul ketika kita harus bayar iuran, kemudian kita harus bangun pagi-pagi sekali supaya bisa sampai di tempat gym tepat waktu. Kemudian kita juga harus mandi dan ganti baju supaya nggak bikin asem orang sekantor, ya kan? Maksudnya sederhana hanya ingin hidup sehat, tapi masalah selanjutnya malah lebih rumit dan kompleks.

Potongan cerita
Kalau contoh yang tadi terlalu ringan, saya akan coba carikan contoh yang lebih berat, yang lebih dalam. Dikutip dalam cerita di buku ini, ada seorang laki-laki yang bernama William James. Lahir dari keluarga kaya, James pada masa kecilnya mengalami kebutaan temporer. Dia bahkan juga mengalami kejang urat punggung yang menyebabkannya tidak bisa duduk atau berjalan tegak selama berhari-hari.

Berkat koneksi Ayahnya, James kemudian diterima di fakultas kedokteran Harvard University. Tapi Ia lebih merasa sebagai pasien dari pada calon dokter, Ia juga merasa dikecewakan karena merasa tidak disayang oleh keluarganya. Sampai akhirnya diam-diam dia keluar dari Harvard, kemudian mengikuti ekspedisi ke hutan hujan Amazon. Dan dia berhasil melakukannya.

Tapi kemudian di tengah hutan tersebut Ia mengalami lagi kejang urat punggung, bahkan terkena cacar air. Sehingga akhirnya ditinggalkan oleh anggota ekspedisi lainnya. Ajaibnya James berhasil pulang kerumahnya. Usianya sudah 30 saat itu bertemu dengan Ayahnya yang marah dan kecewa luar biasa, dan Ia sendiri juga frustasi bahkan pernah terfikir untuk bunuh diri.

James kemudian membaca sebuah buku dan Ia bertekad bahwa dalam satu tahun kedepan, Ia akan seratus persen bertanggung jawab terhadap hidupnya. Bodo amat kalau dia harus menghadapi kegagalan.

Pada akhirnya dunia mengenal William James sebagai Bapak psikologi Amerika. Dia seorang filsuf, seorang cendikia, mengajar di Harvard, bahkan berkeliling Amerika dan Eropa untuk mengajarkan tentang ilmu kejiwaan.

Poin yang dapat dipetik
Tindakan atau reaksi kita, menurut Mark itu sering kali dipengaruhi oleh perasaan. Sering kita kecewa, lalu kita merasa kecewa diatas kekecewaan itu sendiri. Kita merasa bersalah, diatas rasa salah itu sendiri. Kita kemudian marah-marah karena amarah kita sendiri. Itu semuanya menghasilkan perasaan yang negatif bukan. Dan itu seperti lingkaran setan.

Apalagi di era media sosial saat ini, sekali kamu merasa terpuruk maka dalam hitungan menit kamu akan dibombardir dengan foto-foto yang menunjukkan betapa orang sedang berbahagia, betapa orang-orang sedang menikmati kehidupannya.

Mark mengatakan bahwa yang namanya kesalahan atau kegagalan adalah bentuk lampau atau past tense. Sedangkan yang namanya tanggung jawab adalah bentuk sekarang atau present tense. Hal itulah yang disadari oleh William James sehingga Dia berhasil membuat orang tuanya bangga dan bahagia begitu juga dirinya sendiri.

Impresi pembaca
Buku ini asyik banget dibaca, seolah-olah si Mark yang menulis buku ini bercerita langsung di depan kita. Dan membuat pembaca jadi nggak berhenti membacanya. Mark juga melengkapinya dengan contoh-contoh yang asyik. Ia dapat memulai cerita salah satunya dari dunia musik, termasuk juga dari pengalaman pribadinya diselingkuhi oleh pacarnya. Pernah diselingkuhi pacar membuat Mark menjadi frustasi, menyalahkan diri sendiri juga menyalahkan orang lain.

Melalui buku ini, menurut saya Mark Manson sebenarnya ingin mengatakan bahwa yang namanya bodo amat itu nggak ada, kita semua mempedulikan sesuatu. Pertanyaannya, kita memilih untuk mempedulikan apa? Disitulah Mark mengajak fikiran pembaca bertamasya.

Penilaian buku
Seperti pada buku Self Improvement lainnya, buku ini banyak menceritakan bagaimana seharusnya pembaca dalam bersikap menjadi lebih baik lagi. Hanya saja, buku ini banyak menceritakan kisah pribadi si Penulis dengan bahasa yang nyeleneh.

Mark ingin membuka fikiran pembaca, bahwa ada hal-hal penting yang dirasa tidak perlu dipersoalkan dalam hidup. Dia ingin membantu kita untuk cuek pada hal-hal yang kurang penting melalu tiga seni. Seni pertama adalah masa bodoh terhadap segala jenis halangan dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan. Seni kedua, temukan hal-hal penting dan berarti untuk diprioritaskan. Dan seni ketiga adalah mempertegas seni sebelumnya, yakni kita dapat mulai memilah mana yang lebih penting saat menginjak dewasa.

Cara Mark Manson dalam menyampaikan maksudnya dengan menceritakan pengalaman pribadinya sungguh brilian, ditambah dengan judul bukunya yang sangat menarik perhatian pembaca menjadi nilai lebih. Warna buku yang mencolok juga menjadi perhatian, ketika ada sebagian pembaca yang penasaran dengan cover buku sebelum akhirnya membacanya.

Intinya buku ini memang layak untuk dibaca, khususnya bagi kamu yang memang ingin mengembangkan diri melalui bacaan-bacaan yang bermanfaat. Dan buku ini termasuk buku 'santai', yang bisa kamu baca kapanpun dari chapter mana saja kamu ingin baca, tanpa harus buru-buru ingin menyelesaikan bukunya. Karna dalam buku ini Mark membaginya menjadi beberapa bagian cerita, jadi akan memudahkan kita untuk membaca bagian cerita mana saja yang kita suka. Ditambah halaman buku ini yang tidak terlalu tebal, jadi memudahkan kita untuk membawa buku ini kemana saja.

Kalau ada yang perlu diperbaiki, mungkin cara kita dalam memahami isi dalam maknanya. Seperti kebanyakan buku terjemahan, tentu bahasa yang digunakan terkadang tidak pas dengan maksud sesungguhnya dari yang ingin disampaikan Penulis. Perbedaan bahasa inilah yang perlu kita cermati, terlebih bahasa sesunggunya yang digunakan Penulis adalah bahasa-bahasa nyeleneh.

Tapi tetap saja, buku ini masih terlalu seru untuk dilewatkan. So, tunggu apa lagi? Selamat membaca 😁


Salam literasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Tempe Indonesia: A Hub of Innovation for Tempeh Production in Indonesia

Tempeh, a traditional Indonesian fermented soybean product, has gained international recognition as a highly nutritious and sustainable source of plant-based protein. As the demand for tempeh continues to grow both domestically and globally, Rumah Tempe Indonesia (RTI) has emerged as a leading center for innovation, education, and sustainable production practices in the tempeh industry. What is Rumah Tempe Indonesia? Located in Bogor, West Java, Rumah Tempe Indonesia was established in 2012 by the Indonesian cooperative tempeh and tahu. ( Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia ) in collaboration with government and academic institutions. The facility was created in response to the need for a standardized, hygienic, and environmentally friendly model for tempeh production. RTI not only functions as a production center but also as a training facility, research hub, and community empowerment program. Innovation in Production Techniques One of the primary goals of RTI is to modernize...

Rumah Tempe Indonesia: A Local Answer to Food Security Challenges in Indonesia

As the world faces growing concerns over food security, Indonesia—a country rich in agricultural resources and traditional knowledge—is seeking sustainable solutions that not only address hunger, but also support health, the economy, and the environment. One such solution lies in a humble, centuries-old food: tempeh . And at the heart of tempeh innovation is Rumah Tempe Indonesia (RTI) . A Center for Sustainable Innovation Located in Bogor, West Java, Rumah Tempe Indonesia was established in 2012 as a modern facility dedicated to producing high-quality tempeh using safe, hygienic, and sustainable practices. More than just a production center, RTI functions as a hub for research, education, and community empowerment, aiming to elevate tempeh from a traditional food to a strategic asset in achieving national food resilience. Why Tempeh? A Superfood for the People Tempeh, made from fermented soybeans, is a highly nutritious and affordable protein source. It contains all essential amin...

Aksi Kebaikan Tak Terduga

Salah seorang biksu sahabat saya, Ajahn Sumedho , pernah menceritakan kepada saya bahwa suatu pagi ketika ia melihat ke luar jendela, di jalan kota Inggris yang kelabu dan dirundung hujan rintik-rintik, Ia melihat seorang gelandangan yang duduk meringkuk di depan pintu sebuah rumah. Para gelandangan pada zaman itu biasanya menjaga kehangatan tubuh dengan menenggak minuman keras murahan, yang kadang semacam minuman oplosan bermutu sangat rendah, yang bisa membahayakan kesehatan dan membunuh mereka. Saya sangat ingat gelandangan ini sejak saya muda, dan bau mereka begitu busuk karena jarang mandi dan bau alkohol mereka begitu buruknya hingga menempel pada kita. Nah, Ajahn Sumedho melihat gelandangan ini meringkuk di depan pintu, berupaya menghindari hujan dan dingin. Kemudian dari arah lain datang seorang pria parlente Inggris, berpakaian seperti pengusaha, memakai topi, jas yang bagus dan rapih, serta memegang payung. Persis seperti stereotip pria Inggris zaman dahulu ketika hendak ...